Praktisi Hukum dan Aktivis Fahrul Rozi Harahap. (Foto: Ist/Aktual Online)
AKTUALONLINE.co.id – Sumatera Barat || Praktisi Hukum dan Aktivis Fahrul Rozi Harahap menilai jajaran kepolisian Republik Indonesia telah kalah dengan para pelaku tambang emas ilegal Pasaman yang berani mengaku, menampakkan diri, serta membuat aksi penolakan ditutupnya tambang emas ilegal.
Bahkan setelah tambang emas ilegal ini menjadi pemicu perkara percobaan pembunuhan nenek Saudah, Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta memilih untuk memprioritaskan lobi-lobi politik ke Kementerian ESDM dan membiarkan jajarannya memaksa olah TKP hanya dengan seorang tersangka.
Hal ini menurutnya tidak wajar dalam penegakan hukum, serta telah dapat menjadi dasar bagi Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk mencopot Irjen Pol Gatot Tri dari jabatan Kapolda Sumbar.
“Ada pelaku tambang emas ilegal tidak ditangkap, meski mereka kompak membuat aksi terang-terangan melawan negara. Saya menilai ini tidak wajar. Apalagi tidak lama setelah desakan massa itu Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta melakukan lobi-lobi politik ke Kementerian ESDM. Semakin tanda tanya kan, polisi kok kalah sama pelaku tambang emas ilegal. Sudah tidak beres ini, saya mendesak Kapolri copot Kapolda Sumbar,” ungkap Fahrul Rozi Harahap, Senin (2/2/2025) siang.
Lobi-lobi politik Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta bukan hanya menimbulkan kecurigaan publik, namun juga akan membuka celah bagi para pelaku aktivitas ilegal lain seperti pembalakan liar, penangkapan ikan ilegal, perdagangan manusia hingga penjualan Narkoba minta untuk disahkan juga oleh negara dengan menggunakan desakan massa.
Fahrul Rozi Harahap menyinggung bahwa tambang emas ilegal yang dominan beroperasi di Pasaman bukan murni kepentingan masyarakat melainkan bisnis pemburu kekayaan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya alat-alat berat serta mesin yang dipakai untuk menambang emas.
“Saya kira ada pembodohan publik yang berusaha diciptakan oleh orang-orang berkepentingan. Solusinya, copot itu Kapolda Sumbar. Pakai logika saja, kalau masyarakat mengaku miskin, butuh untuk makan, mengapa bisa menggunakan mesin-mesin besar menambang emas secara ilegal. Mengapa uangnya tidak beli makan saja, dan menjalankan bisnis yang tidak merusak alam. Ada aktor intelektual yang berusaha ditutupi dalam tambang emas ilegal ini, dan momen ini dimanfaatkan untuk memperoleh izin,” sindirnya.
Sementara Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta yang dikonfirmasi Aktual Online, hingga berita ini diterbitkan belum mau memberi keterangan soal belum ditangkapnya tiga tersangka lain dalam kasus percobaan pembunuhan nenek Saudah serta soal kajiannya mengenai usulan lokasi tambang rakyat yang ia lobi ke Kementerian ESDM.|| Prasetiyo




