27.8 C
Indonesia
Jumat, 1 Mei 2026

Diduga Amburadul, Mutu Pembangunan 103 Unit Huntap di Adiankoting Disorot

Berita Terbaru

AKTUALONLINE.co.id – TAPUT ||| Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, menuai sorotan. Proyek yang mencakup 103 unit rumah tipe 36 tersebut kini dipertanyakan mutu dan kualitas pembangunannya.

Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, sejumlah bangunan yang nantinya akan dihuni oleh para korban bencana terlihat dikerjakan kurang maksimal. Beberapa bagian konstruksi bahkan terkesan tidak rapi sehingga memunculkan kekhawatiran terkait kekuatan bangunan.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah tiang cor penyangga tampak tidak terisi beton secara sempurna, sehingga memperlihatkan besi tulangan di bagian dalamnya. Selain itu, bagian ring balok pada beberapa unit rumah juga terlihat kurang rapi dengan kondisi beton yang tidak padat dan terdapat rongga-rongga.

Dalam istilah teknis konstruksi, kondisi tersebut dikenal sebagai honeycomb concrete, yaitu beton keropos yang terjadi akibat proses pengecoran yang tidak sempurna. Hal ini diduga disebabkan oleh campuran adukan beton yang kurang baik serta bekisting yang tidak rapat saat proses pengecoran berlangsung.

Apabila kondisi tersebut terjadi secara menyeluruh pada bangunan, hal ini berpotensi memperpendek usia konstruksi. Bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko kerusakan struktural yang berpotensi membahayakan penghuni.

Tidak hanya pada bagian tiang dan ring balok, kondisi beton keropos juga terlihat pada bagian sloof bangunan yang tampak tidak rata. Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa proses pengerjaan konstruksi tidak dilakukan secara optimal.

Diketahui, setiap unit rumah dalam proyek tersebut memiliki nilai anggaran sekitar Rp150 juta.

Dalam pelaksanaannya, proyek pembangunan huntap ini melibatkan tiga rekanan pelaksana. Salah satu di antaranya adalah rekanan bernama Mitra Keluarga. Namun, berdasarkan temuan di lapangan, hasil pekerjaan dari rekanan tersebut disebut-sebut paling banyak mendapat sorotan karena dinilai kurang rapi dan diduga belum memenuhi standar konstruksi yang seharusnya.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan pihak rekanan Mitra Keluarga belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan penjelasan terkait kondisi bangunan tersebut.

Sebagai informasi, pembangunan hunian tetap bagi korban bencana ini merupakan program kolaborasi antara Yayasan Buddha Tzu Chi bersama tiga perusahaan pelaksana yang ditunjuk untuk mengerjakan proyek tersebut.

Sementara itu, masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan huntap tersebut. Mengingat rumah tersebut nantinya akan menjadi tempat tinggal permanen bagi para korban bencana, sehingga mutu dan keamanan bangunan diharapkan menjadi prioritas utama. ||| Agus Juntak

Baca Selanjutnya

Berita lainnya