AKTUALONLINE.co.id TULUNGAGUNG |||
Di tengah derasnya arus digital yang menyentuh hampir setiap aspek kehidupan, puluhan ibu-ibu Desa Sukowiyono Kecamatan Karangrejo, Tulungagung, berkumpul di Balai Desa, untuk mengikuti Pelatihan Pola Asuh Anak dan Remaja bertema “Pentingnya Pengawasan Anak di Era Digital,” Kamis (17/7/2025).
Pelatihan ini dibuka oleh Camat Karangrejo, didampingi Kepala Desa Sukowiyono, Ketua BPD, Babinkamtibmas, serta menghadirkan pemateri dari Dinas Keluarga Berencana (KB) dan dari Dinas Kesehatan Tulungagung. Sebanyak 50 peserta, merupakan ibu-ibu dari desa setempat, mengikuti kegiatan dengan antusias.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang peran orang tua dalam menjaga masa depan anak-anak mereka bukan hanya dari sisi pengawasan, tetapi juga dari aspek kesehatan dan ketahanan keluarga.
Pelatihan yang menghadirkan dua pemateri utama: Dwi Yanuarti, S.E., Kepala UPTD PPA dari Dinas KB, dan Nawang Wulan, pengelola program kesehatan keluarga dari Dinas Kesehatan Tulungagung. Keduanya mengajak peserta memahami bahwa pengasuhan anak di era digital menuntut kehadiran aktif dan pendekatan yang komunikatif.
Dwi Yanuarti menekankan bahwa dunia digital bukanlah ancaman, melainkan medan baru yang harus dikuasai oleh orang tua. Ia menguraikan berbagai risiko yang mengintai anak-anak mulai dari konten tidak layak, cyberbullying, hingga kecanduan gawai dan mengajak peserta untuk membangun komunikasi yang terbuka dan penuh empati.
“Anak-anak kita bukan hanya butuh perlindungan, tapi juga pendampingan. Kita harus hadir di dunia mereka, bukan sekadar mengawasi dari luar,” ujarnya.
Ia juga membagikan strategi praktis pengawasan yang efektif, seperti menyusun aturan digital bersama anak, memanfaatkan fitur kontrol orang tua, dan menjadi teladan dalam penggunaan teknologi.
Sementara itu, Nawang Wulan menyoroti pentingnya pengasuhan yang sehat secara fisik dan mental. Menurutnya, pengawasan digital tidak bisa dilepaskan dari aspek kesehatan keluarga secara menyeluruh.
“Kesehatan keluarga bukan hanya soal fisik, tapi juga kesejahteraan psikososial. Anak-anak yang terlalu lama terpapar gawai berisiko mengalami gangguan tidur, penurunan konsentrasi, bahkan isolasi sosial,” jelasnya.
Ia mendorong orang tua untuk membangun rutinitas sehat di rumah, seperti membatasi waktu layar, mengintegrasikan aktivitas fisik, dan menciptakan momen kebersamaan tanpa gawai. Pengasuhan yang sehat, menurutnya, adalah fondasi utama agar anak tumbuh tangguh di tengah tantangan digital.
“Keluarga adalah benteng pertama. Jika orang tua mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan suportif, maka anak akan lebih siap menghadapi dunia luar,” tutupnya.
Kepala Desa Sukowiyono, Sahrul Wafa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen desa untuk memperkuat ketahanan keluarga.
“Kami ingin para orang tua di Sukowiyono tidak hanya cakap dalam mengasuh, tetapi juga tanggap terhadap perubahan zaman. Era digital menuntut kita untuk lebih bijak dan aktif mendampingi anak-anak, bukan hanya memberi batasan,” tegasnya.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Beberapa peserta berbagi kisah tentang tantangan mereka dalam mengatur waktu anak bermain gawai, hingga kekhawatiran terhadap konten yang sulit dikendalikan.
Dialog terbuka ini menjadi bukti bahwa pengasuhan di era digital membutuhkan kolaborasi bukan hanya antara orang tua dan anak, tetapi juga antara masyarakat dan pemerintah. ||| Dodik
Editor : Zul
