Today

Sabtu, 31 Oktober 2026

Menkomdigi Meutya Hafid Ingatkan AI Jangan Gerus Keragaman Sabang-Merauke!

AKTUALONLINE.co.id – Jakarta ||| Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh meluluhlantakkan keunikan budaya dan identitas keberagaman Nusantara. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memperingatkan pengembang teknologi agar algoritma AI tidak mendikte anak muda Indonesia untuk berpikir dan berbudaya secara seragam.

Peringatan menohok tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat hadir dalam ajang Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat 30 Oktober 2026.

Meutya menekankan bahwa keberagaman ekspresi warga dari Sabang sampai Merauke adalah benteng kekuatan utama bangsa yang tidak boleh digilas oleh simplifikasi algoritma.

“Maluku, Papua, Aceh, Medan, Makassar, Bali, Jambi, Kalimantan, inilah Indonesia. Karena itu, teknologi tidak boleh membuat kita melihat hal yang sama. Algoritma tidak boleh memaksa anak-anak dari Sabang sampai Merauke yang memiliki cerita masing-masing untuk melihat satu hal yang sama,” ujar Meutya di hadapan ratusan generasi muda, seperti yang dikutip Aktual Online, Sabtu (31/20/2026) dari laman www.komdigi.go.id.

Semprot Bias Data Java-Centric, Sindir AI Cuma Cari Aman

Mantan jurnalis tersebut secara khusus menyoroti ancaman bias data dalam pengembangan model AI di Tanah Air. Jika pasokan data pelatihan AI hanya didominasi oleh ritme kehidupan Jakarta atau Pulau Jawa, maka output yang dihasilkan tidak valid dan mencederai realitas kemajemukan daerah lain.

Meutya juga mengingatkan bahaya sifat bawaan AI yang cenderung sekadar “menyenangkan” penggunanya (user-pleasing) alih-alih menyajikan kenyataan objektif di lapangan.

“Kalau data kita hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, AI akan menjadi bias. Datanya tidak valid. Kedua, AI cenderung memberikan validasi, bukan informasi. Padahal yang kita perlukan untuk produktivitas adalah informasi yang akurat,” tegas Meutya.

READ  Lampung Tuan Rumah HPN dan Porwanas PWI Tahun 2027

Pegang Kendali Agentic AI, Manusia Harus Tetap Jadi Pemimpin

Di tengah masuknya era agentic AI yang kian cerdas dan otonom dalam mengambil keputusan, Meutya mewanti-wanti agar publik tidak menyerahkan kemudi kepemimpinan kepada mesin.

Tanpa adanya pagar pengaman (guardrails) dan literasi yang kuat, masyarakat rentan menjadi konsumen pasif yang didikte oleh kebiasaan buatan yang diciptakan sistem.

“Keputusan akhir harus tetap ada di tangan manusia. Ini sejalan dengan kepemimpinan dalam AI. Kita harus menjadi pemimpin bagi AI itu sendiri, bukan malah dikendalikan,” pungkas Meutya.|||Red