AKTUALONLINE.co.id LUBUK SIDUP |||
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus berupaya mendukung pemulihan dan pemberdayaan pascabencana Sumatra, melalui program Mahasiswa Berdampak.
Mahasiswa UMN Al Washliyah dalam Program Mahasiswa Berdampak Melakukan Kegiatan Pembersihan Kayu yang tersisa untuk pendampingan pembuatan arang briket kepada kelompok usaha bersama Desa Lubuk Sidup.

Melaksanakan pelatihan pembuatan briket ramah lingkungan bagi warga Desa Lubuk Sidup Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang, pada 09 Februari 2026. Pelatihan pembuatan briket ramah lingkungan bagi warga desa Lubuk Sidup bertujuan mengubah limbah pertanian/organik (kayu) menjadi bahan bakar alternatif bernilai ekonomis dan memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan dengan mengurangi limbah, menyediakan energi rumah tangga terjangkau, dan menciptakan potensi usaha mandiri Adapun proses pembuatan briket di mulai dengan : Limbah kayu dibakar dalam drum hingga menjadi arang (bukan abu).
Kemudian arang dihaluskan dan diayak agar lembut. Bubuk arang dicampur dengan lem tepung tapioka (kanji) hingga kalis. Adonan dicetak menggunakan alat press briket. Produk briket dijemur selama 2-4 hari tergantung cuaca
Kehadiran mahasiswa dapat membantu memberikan pemahaman dan wawasan baru kepada masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan limbah kayu pasca banjir untuk menambah ekonomi keluarga. Penekanan pada saat presentasi tentang briket dan arang adalah dampak negatif jangka panjang dari segi kesehatan dan lingkungan jika sering menggunakan arang sebagai bahan bakar ataupun sebagai aktivitas lainnya.
Hal ini penting disampaikan agar masyarakat benar-benar paham sehingga dapat mengubah mindset dan perilaku terkait bahayanya arang. Pelatihan dirancang semaksim,al mungkin agar masyarakat desa dapat memahami tahapan proses pembuatannya
Sebagian besar masyarakat desa belum mengetahui cara mengoptimalkan limbah menjadi produk bernilai jual. Menyikapi persoalan tersebut, tim dosen dan mahasiswa berdampak, bersama Yayasan Rumah Briket Medan Ibu Ir. Rena Arifah, MSi mengadakan sosialisasi dan demonstrasi pengolahan limbah kayu menjadi briket. Kegiatan dengan tema Pendampingan Kelompok Usaha Bersama dalam Pembuatan Briket Berbahan Limbah Kayu untuk Ekonomi Desa tersebut terselenggara pada Senin (09/02/2026) di Lahan Kelompok Tani Desa Lubuk Sidup Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang dan sekaligus penyerahan alat cetak briket kepada ketua kelompok usaha bersama agar dapat digunakan untuk produksi arang briket yang lebih baik hasilnya.
Kami mencoba meningkatkan kesadaran bahwasannya limbah kayu, terutama kayu pasca banjir, bukan hanya limbah yang sia-sia, melainkan masih bisa dimanfaatkan kembali sebagai produk energi yang berguna untuk skala rumah tangga, maupun skala UMKM,” ujarnya.
Lebih lanjut, Leni menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh warga masyarakat yang terdiri dari anggota kelompok tani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Lubuk Sidup Berkah. Saat sosialisasi, tim dosen UMN Al Washliyah dan narasumber berfokus menjelaskan definisi umum, fungsi, keunggulan, cara penggunaan, hingga cara pembuatan briket limbah kayu pasca banjir.
“Kami menerangkan bahwa briket mempunyai beberapa keunggulan agar warga tertarik untuk membuatnya secara mandiri usai program sosialisasi ini. Beberapa keunggulan yang briket tawarkan adalah hemat biaya bahan bakar rumah tangga, mengurangi limbah kayu yang biasanya dibuang, membantu mengurangi penebangan kayu dengan bahan bakar alternatif, dan ketahanan panas lebih lama,” ucapnya.
Sambil memaparkan materi, tim mahasiswa berdampak yang terdiri dari dosen, mahasiswa dan narasumber juga melangsungkan demonstrasi pembuatan produk. Prosesnya tergolong sederhana. Tahapan awal mencakup pemanggangan limbah kayu dalam wadah tertutup (tong) tanpa oksigen hingga berubah menjadi arang kasar kemudian dihaluskan menggunakan lumpang penghalusan, kemudian pengayakan untuk memisahkan kotoran. Selanjutnya, tim mencampurkan arang dengan lem berbahan tepung tapioka, memasukkannya ke dalam cetakan, lalu mengeringkannya hingga kadar air berkurang dan briket mengeras sempurna.
Leni selaku ketua pelaksanaan mengungkap partisipan kegiatan cukup antusias menyimak sosialisasi hingga demonstrasi pembuatan produk. “kelompok usaha bersama yang mengikuti turut menerima akan adanya inovasi tersebut, hingga ada yang bertanya-tanya,” tutur Leni.
Pada akhir, Leni bersama tim mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai upaya dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Mereka berharap masyarakat desa setempat mampu mengembangkan inovasi tersebut menjadi produk bernilai jual, baik dalam skala kecil maupun besar. Selain itu, posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir arang briket terbesar turut membuka peluang ekonomi yang menjanjikan bagi pengembangan inovasi tersebut di Desa Lubuk Sidup, Aceh Tamiang
“Kabupaten Aceh Tamiang termasuk lokasi yang sangat parah terkena bencana banjir, banyaknya kayu dan material lainnya membuat warga kehilangan harta bendanya dalam waktu yang singkat di sapu oleh air yang meluap sangat tinggi dan saat ini banjir hanya meninggalkan limbah kayu yang sangat banyak ada yang masih utuh ada juga yang sudah hancur dan untuk limbahnya sendiri sering dibiarkan, padahal jika dilihat hal seperti ini bisa berpotensi menguntungkan, dan bisa berpotensi juga membuka lapangan pekerjaan,” pungkasnya.||| Red
Editor : Zul




