AKTUALONLINE.co.id – Medan II Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumut Abdul Haris Lubis sekarang dikenal sebagai pembisnis buku dengan metode paksa. Pasalnya, ia menjajakkan dagangannya ke seluruh sekolah di Sumatera Utara tanpa peduli apapun, meski harus merubah Anggaran Rencana Kerja Sekolah (ARKS).
Jaringan Mahasiswa Indonesia (JMI) menilai hal ini tidak bisa dibiarkan, mengingat sang pembisnis merupakan kepala dinas yang harusnya fokus bekerja membenahi mutu pendidikan, meningkatkan kemampuan tenaga pendidik serta meningkatkan motivasi masyarakat untuk belajar.
Hal memalukan yang dilakukan Abdul Haris Lubis ini rencananya akan ia beberkan melalui orasi di depan Gedung Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI, Rabu 10 Juli 2024 mendatang. Tujuannya agar Mendagri Toto Karnavian dan seluruh masyarakat mengetahui kebobrokan lembaga urusan pendidikan di Sumatera Utara.
“Kami mau demonstrasi di depan Kemendagri. Sudah kami jadwalkan 10 Juli 2024 mendatang. Biar menteri, dan publik tau seperti apa Kadisdik kami di Sumut ini,” tegas Ahmad Ridwan Dalimunthe, Jumat (28/6/2024) sore.
Saat orasi nanti, JMI akan menuntut Mendagri Titi Karnavian agar memerintahkan Pj Gubsu mencopot Abdul Haris Lubis dari Kadisdik Sumut, mencopot Kurnia Utama dari Sekdisdik Sumut karena sekongkol menjadikan 3 perusahan yakni PT. Noah Jaya Pustaka, CV. Enam Dara Utama, dan CV. MKP.
Sebelumnya, narasumber yang meminta identitasnya disembunyikan kepada Aktual Online menceritakan bahwa Abdul Haris Lubis telah menginstruksikan seluruh sekolah SMK di Kabupaten Dairi untuk membatalkan buku-buku yang telah dipesan dan membelinya di tiga perusahaan bawaannya.
“Udah sempat kami pesan, bukunya sudah datang pula. Tapi tidak mungkin kami membayar, karena dipaksa beli buku dari perusahaan itu,” bebernya.
Menurutnya, Kadisdik Sumut Abdul Haris Lubis harusnya tidak boleh memaksakan diri untuk mengurusi masalah jual beli buku apalagi di saat seluruh sekolah telah melakukan pemesanan jauh sebelumnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Kadisdik Sumut Abdul Harus Nasution belum mau memberikan konfirmasinya terkait pemaksaan seluruh sekolah SMK di Dairi untuk membeli buku dari perusahaan bawaannya.II Prasetiyo
