23.4 C
Indonesia
Rabu, 18 Februari 2026

Hati-hati, Ada Wartawan Kanibal

Berita Terbaru

AKTUALONLINE.co.id – Perspektif II ‘Kalau tidak tahan lapar, jangan jadi wartawan’, pernyataan itu pernah menjadi kejutan bagi jantung kami, calon-calon jurnalis yang akan memasuki gedung oranye. Di seberang jalan tidak jauh dari patung Sisingamangaraja, sebuah kampus populer pada masanya bagi para pemburu berita menempuh pendidikan tinggi.

Tentu bagi calon penulis fakta, maklumat itu sama saja seperti sebuah kecemasan bahwa pilihan menjadi seorang wartawan merupakan cara lain bunuh diri. Selama bertahun-tahun, bahkan hingga saat ini pernyataan tersebut terus terngiang, dan kami ternyata masih tetap hidup dengan profesi yang disalahpahami serta disalahgunakan banyak orang.

Usai dianalisa, ungkapan tadi merupakan suatu peringatan bagi para calon wartawan agar memantapkan keyakinan saat memilih profesi wartawan, yang sangat bertolak belakang dengan profesi dokter, guru, ASN, Polisi, TNI maupun lainnya dengan penghasilan dijamin oleh negara.

Begitupun, banyak yang banting setir menjadi seorang wartawan karena menganggap sesuai dengan passion mereka. Tidak sedikit juga, jalur profesi ini dilakoni untuk menolong para pejabat dalam menutupi keburukan yang dikerjakan. Tentu saja, ada imbalannya. Contoh perilaku tidak terpuji dari para oknum wartawan semacam itu sudah banyak terjadi, bahkan tidak sedikit yang menampakkan penyerangannya terhadap kami sebagai media kritis.

Seperti dalam memberitakan kasus sport centre. Eh itu Gubernurnya sudah ganti, nanti saja kita singgung lagi. Nah, yang terdekat adalah soal PUD Pasar Kota Medan. Karena ucapan Dirut dicatut sebagai judul berita, timnya kemudian sibuk membuat dan menyebarluaskan rilis dan menyatakan bahwa si pembuat berita salah tafsir.

Ada beberapa fakta yang menarik dalam kasus ini soal rilis yang diakomodir dan dimuat oleh beberapa media. Pertama, soal hak koreksi yang termaktub dalam Bab I Pasal 1 ayat 12. Definisi hak koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah apakah media yang menaikan rilis tadi juga memuat berita seperti yang diterbitkan oleh Aktual Online, sehingga berlomba menaikkan hak jawab PUD Pasar Kota Medan.

Kedua adalah soal kode etik jurnalis yang diabaikan saat menaikkan berita itu. Beberapa wartawan sering kali mengabaikan Pasal 3 yang menegaskan bahwa wartawan selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampuradukkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan praduga tidak bersalah.

Ada penyebutan oknum wartawan serta judul yang diberitakan dalam rilis dari PUD Pasar Kota Medan. Jika memang wartawan, tentu sebelum penerbitan rilis harus melalukan konfirmasi juga terhadap pihak yang dicatut dan mereka hakimi. Jika anda sudah paham situasi, mari kita tertawa bersama.

Ketiga, humas bukanlah wartawan dan ketika menjadi wartawan jangan nanggung. Fakta seperti ini memang tidak bisa dielakkan lagi. Perkembangan zaman, kerja humas memang berhasil memecah dan menggiring wartawan ke lubang hitam. Seakan-akan mempermudah wartawan dengan menciptakan rilis dan menganggarkan sedikit budget, para wartawan kemudian didata menjadi aset yang siap menaikkan pencitraan diri yang mereka buat.

Kami sedikit mengingatkan kembali kepada publik, khususnya para pejabat yang sedang maupun akan menjabat dalam suatu instansi, bahwa situasi politik di kantor anda selalu berjalan dinamis. Akan ada masalah, kecil atau besar bisa bocor dan menjadi konsumsi publik. Namun, menghindari wartawan atau melawan berita dengan berita tandingan dari media berbeda seakan-akan adalah hak koreksi merupakan perbuatan yang kurang tepat.

Jika benar, maka tidak perlu gusar. Sebagai seorang wartawan, bertanya dan menyebarluaskan berita merupakan tugas yang telah digariskan dalam regulasi kewartawanan, termasuk kode etik. Setiap wartawan juga memiliki cara sendiri dalam melihat penting atau tidak bernilainya sebuah kejadian.

Sangat disayangkan, campuran emosional dengan profesi wartawan sering diaduk dalam ritme yang salah. Sehingga, wartawan menjadi kanibal dan menyerang rekan seprofesinya saat instansi atau relasinya diberitakan. Jika situasi ini terus dipertahankan, maka masyarakat juga terkena dampaknya. Tidak ada lagi tempat pengaduan. Media massa akan tergilas media sosial karena wartawan hanya saling sibuk menjaga tuannya. Tapi, yasudahlah, yang kami ceritakan juga hanya oknum. Kami wartawan-wartawan di sini kompak kok. II Prasetiyo (Penulis adalah pengasuh rubrik perspektif)

*Anda juga dapat mengirimkan tulisan maksimal 1.500 kata disertai identitas dan biodata lengkap ke redaksi kami.

Baca Selanjutnya

Berita lainnya