AKTUALONLINE.co.id – Jakarta || Pengembangan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tidak sebatas bertumpu pada perangkat lunak dan pusat data semata. Di balik kecanggihan ekosistem digital tersebut, terdapat fondasi material vital berupa mineral kritis, khususnya nikel dan tembaga. Oleh karena itu, skema hilirisasi mineral di dalam negeri mendesak untuk diarahkan guna menyokong pembangunan infrastruktur digital yang tangguh, efisien, serta berkelanjutan.
Nikel dan tembaga memegang peranan krusial sebagai komponen utama infrastruktur AI, mulai dari kebutuhan baterai, perangkat kelistrikan, jaringan transmisi, hingga sistem penopang ketahanan data center. Indonesia sendiri memiliki posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok global dengan menguasai sekitar 62 persen dari total produksi tambang nikel dunia.
Posisi dominan ini memberikan peluang besar sekaligus tanggung jawab tinggi untuk memastikan pengolahan mineral memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan sosial. Indonesia harus menjamin rantai nilai tersebut memberi keuntungan berkelanjutan bagi semua pihak di tengah tingginya permintaan bahan baku transisi digital global.
Pemerintah juga menekankan bahwa paradigma hilirisasi mineral tidak boleh berhenti pada proses pengolahan fisik di kawasan sekitar tambang semata.
“Hilirisasi harus berarti lebih dari sekadar melakukan pengolahan mineral di dekat lokasi tambang. Hilirisasi harus mencakup peningkatan kinerja lingkungan, penguatan ketertelusuran, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, penggunaan energi rendah karbon, serta perhatian serius terhadap limbah, air, dan dampak terhadap masyarakat” tegas Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, seperti yang dikutip Aktual Online, Kamis (8/10/2026) dari laman www.komdigi.go.id
Pembangunan pusat data modern sebagai pilar AI membutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari keandalan pasokan listrik, jaringan serat optik, lahan, sistem pendingin, ketersediaan cip, hingga tata kelola SDM ahli. Dengan modal posisi geografis strategis, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, serta limpahan talenta muda, Indonesia berpeluang kuat tampil sebagai pusat AI di tingkat regional.
Namun, peluang besar tersebut harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Pertumbuhan yang ada perlu diubah menjadi penciptaan lapangan kerja bernilai tinggi, penguatan kapabilitas domestik, serta pembangunan ekonomi yang benar-benar berkelanjutan. || Red






