Today

Soal DPO Christoph Munthe, Ngaku Adik: Apa Tanggungjawab Klen Membahasakan Abang Kami Buronan?

Prase Tiyo

Kolase foto DPO Christoph Munthe (kiri) dan screenshoot WhatsApp nomor tidak dikenal mengaku adeknya sang buronan tersebut. (Foto: Ist/Aktual Online) 

 

AKTUALONLINE.co.id – Tebing Tinggi || Tiba-tiba sebuah nomor tidak dikenal 082184178626 menghubungi redaksi Minggu 16 Februari 2025 malam. Di ujung panggilan WhatsApp, seorang laki-laki tanpa menyebut identitas jelas dan mengaku sebagai adik dari DPO Christoph Munthe menyampaikan rasa tidak terimanya karena nama sang abang disebut secara jelas dalam berita sebagai seorang buronan.

Tidak sampai di situ, melalui pesan WhatsApp ia menuliskan tudingannya terhadap Media Aktual Grup yang menjadi-jadi dalam menulis berita. Pria mengaku adik itupun mempertanyakan hak media ini dalam menyebutkan Christoph Munthe sebagai seorang buronan.

Selain itu, ia pun mengajari wartawan Aktual untuk mengkonfirmasi sang buronan terkait pemberitaan yang ditujukan kepada abangnya itu.

“Apa tanggungjawab klen membahasakan abang kami buronan atau DPO?. Udah makin menjadi-jadi klen. Apakah saudara prasetiyo sudah konfirmasi dengan saudara Christoph Munthe terkait dengan pemberitaan yang kita baca Jumat 14 Februari 2025,” tulisnya.

Menanggapi hal itu, Praktisi Hukum Jauli Manalu meminta agar seluruh pihak yang memiliki hubungan atau simpati terhadap DPO Christoph Munthe tidak salah memahami situasi maupun proses hukum.

DPO atau buronan bukanlah gelar yang diberikan sebuah media terhadap seseorang, melainkan penyebutan yang sering dipakai oleh aparat penegak hukum terhadap tersangka yang mangkir dalam panggilan pemeriksaan lebih 3 kali dan keberadaannya juga tidak jelas.

“DPO itu bukan wewenang media memberikannya. Media hanya memberitakan fakta. Dan faktanya polisi telah menetapkan Christoph Munthe adalah DPO atau buronan,” terangnya, Selasa (18/2/2025) siang.

Aktual sebagai media massa lanjutnya tidak perlu untuk menghubungi seorang DPO untuk mengkonfirmasi, melainkan Polres Tebing Tinggi harus menangkapnya untuk memulihkan nama baik institusi kepolisian di mata publik karena tidak mampu menangkap buronan di depan mata melainkan hanya mengirim ‘surat cinta’ agar datang menjalani pemeriksaan.

Memang, dalam investigasi Aktual Online, perkara Christoph Munthe pada tahun 2021 silam sempat disembunyikan oleh Kapolres Tebing Tinggi AKBP Simon Paulus Sinulingga dengan menyuruh Kasi Humas AKP Mulyono untuk menyebar berita bohong soal kasus buronan itu masih tahap penyelidikan, serta mereka akan melakukan gelar perkara.

Setelah fakta-fakta diungkap Aktual, Humas Polda Sumut yang saat itu dijabat oleh Kombes Pol Hadi Wahyudi membeberkan bahwa Christoph Munthe adalah tersangka dalam kasus pencurian rel kereta api milik PT. KAI dan sudah berstatus DPO tahun 2021.

Bahkan, seluruh personel polisi yang sempat menangani kasus Christoph Munthe saat bertugas di Polres Tebing Tinggi diperiksa oleh Paminal Mabes Polri dan menyinggung soal SKCK yang diterbitkan untuk seorang buronan untuk keperluan pendaftaran serta kelengkapan administrasi anggota DPRD Tebing Tinggi terpilih.

READ  Jamwas Harus Periksa Oknum Kasi Intel di Kejari Deli Serdang, Soal Penetapan Tersangka Kasus Korupsi Tergantung Pesanan Mesti Diusut Tuntas

Penelusuran tim, dalam Polres Tebing Tinggi SKCK yang diterbitkan Polres Tebing Tinggi untuk DPO Christoph Munthe untuk mendaftar ke KPU sebagai calon legislatif di 2024, kabarnya tidak mendapat rekomendasi dari Kasatreskrim Polres Tebing Tinggi yang saat itu dijabat oleh AKP Junisar Rudianto Silalahi.

Diketahui, DPO Christoph Munthe yang buron sejak 2021 diberi kesempatan lagi oleh Polres Tebing Tinggi untuk menggelar pesta mewah, Jumat 14 Februari 2025 di Wisma Mangampu Tua Jalan Prof Dr Hamka Kelurahan Durian Kecamatan Bajenis.

Padahal, dalam pantauan tim Aktual Online, jarak Polres Tebing Tinggi ke lokasi Pesta hanya berkisar 1 km. Namun, tidak satupun kepolisian berani menyentuh buronan tersebut, malah personel dari jajaran Polres Tebing Tinggi mengirimkan karangan bunga ucapan selamat.

Papan bunga ucapan selamat untuk hajatan yang digelar DPO Christoph Munthe tampak ada yang dikirim oleh anggota Satserse Polres Tebing Tinggi Brigadir Gomgom Raja dan Kapolsek Sipispis AKP Jaresman Sitinjak.

Hingga berita ini diterbitkan, Kapolres Tebing Tinggi AKBP Simon Paulus Sinulingga, Kasatreskrim AKP Sahri Sebayang dan Kasi Humas AKP Mulyono memilih bungkam dari pertanyaan soal adanya prosedur baru penanganan DPO yang dilakukan Polres Tebing Tinggi dengan menyurati atau menunggu kesadaran sang buronan tanpa menangkapnya, bahkan difasilitasi pembuatan SKCK juga permohonan restorative justice.

Peristiwa penangan DPO di Tebing Tinggi sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan Bandar Lampung akhir tahun 2024 silam. Di sana ada seorang polisi yang menangkap seorang DPO dan menjadi viral setelah diupload oleh akun X @folkshittmedia itu menuai pujian lantaran penangkapan tersebut dilakukan saat polisi itu sedang liburan bersama keluarga.

Sebelumnya diberitakan bahwa Anggota DPRD Tebing Tinggi Christoph Munthe yang menyandang status DPO mangkir dari panggilan untuk pemeriksaan kepolisian, meskipun telah dibiarkan bebas berkeliaran selama hampir 4 tahun hingga difasilitasi membuat SKCK dan akhirnya duduk menjadi legislatif.

Hasil investigasi yang dilakukan Media Aktual Grup, DPO Christoph Munthe yang tidak menghadiri agenda pemeriksaan pada 7 Februari 2025 tampak santai hilir mudik di Kota Tebing Tinggi. Seperti pada Sabtu 8 Februari 2025 sekitar pukul 09.20 WIB, tim melihat buronan tersebut berada di kawasan Imam Bonjol Kota Tebing Tinggi. Ia terlihat duduk di salah satu warung persis di depan PT.ADEI dan mobilnya Pajero warna hitam BK 1970 CM terparkir di dekat tongkrongannya.

Terkait hal itu, Ketua DPRD Tebing Tinggi Sakti Khaddafi Nasution pun mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendapat kiriman surat dari Polres Tebing Tinggi 6 Februari 2025 lalu terkait panggilan mereka kepada Anggota DPRD bernama Christoph Munthe. Selaku ketua dewan, iapun mengaku menindaklanjuti surat yang diterima itu dengan menyurati DPO Christoph Munthe agar memenuhi panggilan Polres Tebing Tinggi untuk diperiksa.

READ  Hingga Akhir 2024, Polres Tebing Tinggi Gagal Tangkap DPO yang Berkeliaran Sejak 2021

“Surat dari polres sudah saya terima kamis lalu dan sudah saya teruskan atau surati sdr christoph untuk hadir atas pemanggilan tersebut,” ungkapnya melalui WhatsApp.

Namun, ia enggan mengomentari soal status DPO yang disandang oleh seorang anggota legislatif aktif Christoph Munthe.

Sementara itu, pernyataan Sakti Khaddafi Nasution dikuatkan juga oleh Wakil Ketua I DPRD Muhammad Ikhwan dengan menyatakan bahwa Polres memang telah menyurati Ketua DPRD Tebing Tinggi terkait pemanggilan Anggota DPR berstatus DPO Christoph Munthe untuk diperiksa. Bahkan, Ketua DPRD juga telah menyurati yang bersangkutan agar datang dalam pemeriksaan.

“Sama Ketua itu (red. Surat dari Polres Tebing Tinggi). Sudah disurati (red. Christoph Munthe). Surat kita dari DPRD sudah sampai,” terangnya.

Saat ditanya pendapatnya soal status DPO yang disandang oleh seorang anggota dewan, Muhammad Ikhwan mengaku enggan mengomentari hal tersebut. Apalagi, masih ada ketua dewan yang lebih berhak untuk memberi pernyataan.

Dalam investigasi yang dilakukan Media Aktual Grup, Jumat 7 Februari 2025 kemarin, DPO Christoph Munthe tidak tampak menginjakkan kakinya di Polres Tebing Tinggi sesuai jadwal pemeriksaan yang dibeberkan Kasatreskrim AKP Sahri Sebayang di media massa sebelumnya.

Diketahui, AKP Sahri Sebayang sempat mengeluarkan pernyataan tidak mendidik dan menguatkan keyakinan publik bahwa Polres Tebing Tinggi bermain drama korea. Yakni, alibi mereka tidak menangkap DPO Christoph Munthe adalah Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/1160/V/RES.1.24/2023 tanggal 31 Mei 2023.

Jika dibaca secara teliti, poin ketiga membantah pernyataan AKP Sahri Sebayang, karena di sana dijelaskan bahwa yang dimaksud perkara tidak ditangani kepolisian ditujukan pada aduan atau laporan untuk menjatuhkan elektabilitas peserta Pemilu.

Sayangnya, status DPO Christoph Munthe diberikan oleh Polres Tebing tinggi pada tahun 2021 atau jauh sebelum penetapannya sebagai peserta pemilu.

Poin keempat juga menegaskan bahwa proses penyelidikan dan penyidikan bagi peserta Pemilu ditunda hingga tahapan Pemilu selesai agar tidak dianggap berpihak ke sala satu calon. Namun poin keempat itu muncul sebagi turunan poin ketiga, sehingga tidak dapat menunda penangkapan DPO yang telah lama tidak ditangkap.

Penanganan perkara DPO Christoph Munthe dibuka ke publik setelah kebohongan mereka terkuak dan Paminal Mabes Polri turun memeriksa seluruh personel polisi pernah bertugas di Polres menangani kasus itu.

Sesuai penjelasan Kasat Reskrim Polres Tebing Tinggi di beberapa media online bahwa Tersangka Christoph Munthe akan diperiksa sebagai Tersangka pada hari Jumat 7 Februari 2025 maka Jauli Manalu mengingatkan agar DPO Christoph Munthe ditahan terlebih dahulu untuk mempermudah penyidikan, karena statusnya sudah buronan.

READ  4 Tahun DPO Christoph Munthe, Berawal dari Buronan Lalu Dibantu Polres Tebing Tinggi jadi Anggota Dewan

Saat ini publik menilai sosok DPO Christoph Munthe kuat hingga mampu menaklukkan kepolisian. Apalagi, sudah 4 kali kapolres Tebing Tinggi berganti, dan 3 kali kasatreskrim ditukar, namun tidak satupun dari mereka yang mampu menangkap otak pelaku dan penadah rel kereta api curian milik PT. KAI.

Mulai dari Kapolres Tebing Tinggi AKBP Agus Sugiyarso, AKBP Kunto Wibisono, AKBP Andreas Luhut Jaya Tampubolon, hingga AKBP Simon Paulus Sinulingga dengan Kasatrestrim Polres Tebing Tinggi AKP Wirhan Arif, AKP Junisar Rudianto Silalahi sampai ke AKP Sahri Sebayang.

Namun, semuanya gagal menangkap satu orang DPO yang secara kasat mata hilir mudik di Tebing Tinggi, bahkan keluar masuk Polres Tebing Tinggi.

Pihak Polres Tebing Tinggi baik Kapolres Tebing Tinggi AKBP Simon Paulus Sinulingga dan Humas Polres Tebing Tinggi Iptu Mulyono juga terus bungkam soal alasan mereka yang membiarkan DPO Christoph Munthe bebas berkeliaran sejak tahun 2021. Apalagi, fakta bohong mengenai proses hukum terhadap DPO mereka sampaikan kepada publik dibongkar sendiri dengan pernyataan dari Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi.

Lalu, fakta persidangan nama anggota DPRD Tebing Tinggi Christoph Munthe juga berkali-kali disebut telah menyuruh delapan tersangka bergerak melakukan pencurian rel kereta api PT. KAI.

Analisis yang dilakukan oleh Tim Aktual Media Grup, fakta tersebut diuraikan dalam 3 putusan, yakni 325/Pid.B/2021/PN Tbt, 326/Pid.B/2021/PN Tbt, dan 327/Pid.B/2021/PN Tbt.

Misalnya di putusan 326/Pid.B/2021/PN Tbt, terdakwa Juni Jul Putra alias Puput, Muhammad Nasir alias Ujang menceritakan bahwa rel kereta api yang mereka curi dan angkut merupakan perintah dari Christop Munthe. Tepatnya 26 September 2021 sekitar pukul 20.00 WIB, Puput ditelepon Christop Munthe.

“Put angkat besi rel kereta api di Jalan Sofyan Zakaria (Sektor 5) Kota Tebing Tinggi dan terdakwa menjawab belum bisa bang masih diluar, nanti jam 9 aku kesana,” salah satu bunyi penggalan putusan 326/Pid.B/2021/PN Tbt.

Berdasarkan putusan didapat fakta bahwa Juni Jul Putra alias Puput, Muhammad Nasir alias Ujang kemudian datang dan pergi bersama-sama dengan Christoph Munthe menggunakan mobil miliknya Christoph Munthe nomor polisi BE 2478 AR warna hijau lumut menuju Jalan Syofyan Zakaria Lk.II Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi mengangkut rel besi curian mereka.

Keterangan paling jelas juga terdapat di putusan 327/Pid.B/2021/PN Tbt bahwa terdakwa Sutresno alias Bedak dan Herwandi alias Usuf pada 25 September 2021 sekitar pukul 08.00 WIB didatangi oleh Christoph Munthe menawari pekerjaan mencari besi dan akan dibayar Rp2 ribu perkilogram. Bahkan dalam fakta persidang itu, Christoph Munthe juga memodali mereka Rp50 ribu untuk membeli mata gergaji besi.|| Prasetiyo

Related Post