Today

Lompati Kesenjangan Layanan, Kemenkes Perkuat Skrining Kesehatan Jiwa

Sila

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (tengah) merangkul para penyandang neurodivergen yang berdaya menjadi barista dalam rangkaian Festival Suara Jiwa di Jakarta pada Minggu (11/10/2026) Kemarin. (Foto: Ist/ Aktual Online)
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (tengah) merangkul para penyandang neurodivergen yang berdaya menjadi barista dalam rangkaian Festival Suara Jiwa di Jakarta pada Minggu (11/10/2026) Kemarin. (Foto: Ist/ Aktual Online)

AKTUALONLINE.co.id – Jakarta || Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya penguatan kesehatan jiwa sebagai elemen krusial dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Isu kesehatan jiwa dan kondisi neurodivergen kini tidak lagi ditempatkan sebagai masalah pinggiran, melainkan fokus utama yang harus ditangani secara inklusif mulai dari lingkup keluarga.

Hal tersebut disampaikan Wamenkes Dante saat membuka talkshow bertajuk “Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergen Berdaya” dalam rangkaian Festival Suara Jiwa di Jakarta, Minggu (11/10/2026) Kemarin. Ia menekankan bahwa penanganan kondisi neurodivergen seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) maupun disleksia memerlukan dukungan penuh lingkungan sekitar. Mengambil contoh peraih Nobel Kimia 2017 Jacques Dubochet yang merupakan penyandang disleksia, ia mengingatkan agar keterbatasan belajar masa kecil tidak memadamkan potensi anak.

“Hari ini saya menyaksikan bagaimana masalah kejiwaan itu sangat penting. Masalah kejiwaan bukan lagi isu yang terpinggirkan, tetapi menjadi isu utama. Kesehatan jiwa yang lebih kuat mendukung terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang lebih unggul,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, seperti yang dikutip Aktual Online, Senin (12/10/2026) dari laman www.kemkes.go.id.

Langkah mendesak ini berpacu dengan besarnya beban gangguan kesehatan jiwa di tanah air. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2023 mencatat gangguan jiwa menempati peringkat kedua penyebab Years Lived with Disability (YLD) di Indonesia, dengan pemicu utama berupa depresi, kecemasan, dan skizofrenia. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi depresi usia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen, serta gangguan jiwa berat sebesar 4 per 1.000 anggota rumah tangga. Sayangnya, mayoritas penderita belum mendapat penanganan medis.

READ  Kapolri Pastikan Siap Amankan Kepulangan Kepala Negara dan Delegasi KTT ASEAN

“Pada kasus depresi, baru 12,7 persen penderita yang menerima pengobatan. Artinya, hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum tersentuh penanganan medis,” jelas Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, seperti yang dikutip Aktual Online, Senin (12/10/2026) dari laman www.kemkes.go.id.

Tingginya kesenjangan penanganan medis (treatment gap) semakin diperberat oleh minimnya tenaga ahli. Per 1 September 2026, data SISDMK mencatat Indonesia hanya memiliki 1.495 psikiater, atau rasio 1 psikiater untuk 180 ribu penduduk—jauh dari standar WHO yakni 1 per 30 ribu penduduk. Selain itu, dari 3.513 psikolog klinis yang ada, baru 213 orang yang bersiaga di Puskesmas.

Menanggapi ketimpangan tersebut, Kemenkes terus memasifkan upaya preventif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta layanan kesehatan bagi ibu hamil dan pasca persalinan. Hingga kini, skrining kesehatan jiwa telah menjangkau lebih dari 71,8 juta jiwa. Sebagai acuan praktis penanganan awal di Puskesmas, Kemenkes meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa untuk kelompok ibu hamil/pasca persalinan, anak/remaja, dewasa, hingga lansia.

“Buku saku ini disusun bersama para ahli dari organisasi profesi sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan di Puskesmas dalam menindaklanjuti hasil skrining di lapangan,” tegas Endang, seperti yang dikutip Aktual Online, Senin (12/10/2026) dari laman www.kemkes.go.id. || Red

Related Post