AKTUALONLINE.co.id – Jakarta ||| Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperluas benteng pertahanan guna menekan angka kesakitan dan kematian akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV). Tak hanya menyasar anak perempuan, program imunisasi HPV gratis kini resmi diperluas untuk anak laki-laki usia sekolah guna memutus rantai penularan kanker sejak dini.
Langkah strategis tersebut dipaparkan dalam webinar nasional bertema “Mencegah Kesakitan dan Kematian Akibat HPV dengan Imunisasi” yang digelar Kemenkes bersama insan media dan influencer, Kamis 29 Oktober 2026.
Ancaman HPV di Indonesia tergolong memprihatinkan. Setiap tahunnya, tak kurang dari 22.000 perempuan di tanah air meninggal dunia akibat kanker leher rahim (serviks). Sementara di tingkat global, puluhan ribu pria turut menjadi korban kanker orofaring dan organ reproduksi akibat paparan virus yang sama.
Suntik Satu Dosis Sejak SD, Efektivitas Proteksi Tembus 90 Persen
Direktur Imunisasi Kemenkes dr. Indri Yogyaswari, MARS, menekankan pentingnya pemberian vaksin HPV pada anak usia 10–11 tahun (kelas 5 SD). Dosis tunggal yang diberikan pada usia dini dinilai jauh lebih efektif membentuk antibodi ketimbang vaksinasi saat dewasa.
“Kalau diberikan pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan hanya satu dosis, perlindungannya bisa mencapai 88 hingga 90 persen. Namun jika baru diberikan pada usia di atas 20 tahun meski dengan dua dosis, tingkat perlindungannya hanya sekitar 60 persen. Semakin awal diberikan, proteksinya semakin maksimal,” terang dr. Indri, seperti yang dikutip Aktual Online, Jumat (30/10/2026) dari laman www.kemkes.go.id.
Cakupan imunisasi HPV nasional tahun 2026 tercatat impresif. Untuk anak perempuan kelas 5 SD telah menembus 83,5 persen. Sementara itu, perluasan imunisasi bagi anak laki-laki kelas 5 SD yang dimulai tahun ini di tiga provinsi percontohan—DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali—berhasil menyentuh angka 88 persen.
Libatkan Media dan Influencer Melawan Disinformasi Vaksin
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengakui bahwa tantangan terbesar penanganan HPV di lapangan bukan sekadar distribusi logistik, melainkan gempuran hoaks dan isu negatif seputar vaksinasi.
“Kami mengajak rekan-rekan media, jurnalis, dan para influencer untuk aktif mengedukasi masyarakat, meluruskan informasi keliru, serta menyajikan fakta berbasis bukti ilmiah,” tegas Aji.
Menjawab kekhawatiran publik, Ketua Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof. dr. Hinky Hindra Irawan Satari memastikan bahwa vaksin HPV aman digunakan karena telah lolos serangkaian uji klinis ketat. Reaksi ringan seperti nyeri lokal, pusing, atau demam pascasuntikan merupakan respons imun tubuh yang wajar dan akan hilang dengan sendirinya.
Guna mempermudah akses informasi sahih, Pokja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) Kemenkes juga resmi meluncurkan portal edukasi imunisasi-hpv.rcce.id. Situs ini menyediakan dokumen penelitian, riset kebijakan, hingga materi edukasi konten media sosial yang dapat diakses bebas oleh masyarakat. |||Red







