AKTUALONLINE.co.id – MEDAN ||| Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI), Gandi Parapat, mengkritik pernyataan Ephorus HKBP terkait tidak adanya penistaan dalam pernyataan Jusuf Kalla.
“Seperti jenius kali Ephorus, langsung lebih tahu dari aparat hukum atau pakar hukum,” ujar Gandi Parapat, Selasa (28/4/2026).
Menurut Gandi, tindakan Ephorus yang melakukan mangulosi kepada Jusuf Kalla merupakan hal yang baik. Namun, ia menilai pernyataan bahwa tidak ada penistaan sebagai sikap yang berlebihan.
“Masalah Ephorus mangulosi Pak Jusuf Kalla itu bagus, tapi pernyataan tidak ada penistaan keterlaluan pintar, jenius, dan memalukan,” katanya.
Gandi juga menyinggung peran Ephorus dalam internal gereja. Ia menyebut tugas Ephorus seharusnya fokus pada pembinaan jemaat, termasuk kegiatan kebaktian keluarga.
“Tugasmu Ephorus menyuruh semua warga HKBP kebaktian keluarga agar ada sumbangan atau menambah kas HKBP, itu sangat bagus. Biar banyak uang yang akan dipakai, walaupun kebaktian keluarga itu penuh dengan kebohongan, yang penting orang berlomba memberi kolekte,” ujarnya.
Selain itu, Gandi turut melontarkan sindiran bahwa Ephorus layak membentuk kelompok hiburan.
“Kalau Ephorus Fiktor Tinambunan mau buat grup lawak atau opera, menurut saya sudah layak dan memenuhi syarat. Saya yakin pasti banyak peminat, bahkan bila perlu seluruh warga HKBP memberi bantuan untuk membesarkan grup lawak Ephorus,” katanya.
Lebih lanjut, Gandi menilai persoalan ketersinggungan atas pernyataan Jusuf Kalla seharusnya dapat diselesaikan tanpa proses hukum.
“Untuk menyelesaikan masalah ketersinggungan atau keterlanjuran bicara yang membuat orang lain tersinggung, sebenarnya sangat gampang, tidak perlu melalui proses hukum atau pengadilan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan nilai-nilai moral dalam menyikapi perbedaan.
“Ephorus Tinambunan sudah lupa, kalau ditampar pipi kiri beri pipi kanan, kalau dilempar pakai batu lempar pakai pisang. Artinya kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan, tetapi dengan kebaikan,” ucapnya.
Sebagai seorang Kristen, Gandi mengaku tidak mempermasalahkan perbedaan ungkapan atau bahasa, termasuk dalam hal keagamaan.
“Saya selaku orang Kristen tidak pernah mempermasalahkan ketersinggungan ungkapan atau bahasa saudara saya, apalagi masalah agama seperti penistaan,” katanya.
Ia kembali menegaskan kritiknya terhadap pernyataan Ephorus.
“Jadi lawakan atau permainan Ephorus HKBP Fiktor Tinambunan adalah lawakan tingkat tinggi yang menunjukkan ketololan karena dia bilang tidak ada penistaan. Apa Ephorus ahli hukum atau aparat hukum,” tegasnya.
Gandi juga menyarankan agar Ephorus mengambil langkah yang lebih bijak dengan merangkul pihak yang merasa tersinggung.
“Sebaiknya Ephorus merangkul orang yang tersinggung atas ungkapan Jusuf Kalla yang dianggap penistaan, duduk bersama dan berdoa, karena doa adalah jawaban atas semua permasalahan,” ujarnya.
Menurutnya, tindakan mangulosi kepada Jusuf Kalla sudah tepat, namun pernyataan yang menyebut tidak ada penistaan dinilai tidak perlu disampaikan.
“Dengan Ephorus mangulosi Pak Jusuf Kalla sangat tepat, tapi dengan gaya atau ungkapan tidak ada penistaan agama itu sangat lucu dan menurut saya tidak tepat. Masalah penistaan itu tidak perlu dibicarakan Ephorus karena itu masalah hukum,” katanya.
Gandi menambahkan bahwa persoalan hukum dapat diselesaikan dengan pendekatan saling memahami.
“Masalah hukum bisa selesai kalau ada saling memahami. Jadi masalah Jusuf Kalla diadukan itu pasti bisa selesai tanpa melalui pengadilan, yang penting saling memahami karena kita semua bersaudara,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kontribusi Jusuf Kalla bagi bangsa.
“Apalagi Pak Jusuf Kalla sudah banyak berbakti untuk bangsa dan negara,” katanya.
Menutup pernyataannya, Gandi kembali menyindir dengan nada satir.
“Namun lawakan Ephorus HKBP tersebut pasti tidak semua memuji, namun saya tertawa terbahak-bahak. Kalau Ephorus mau membuat grup lawak seperti opera, saya bersedia mencari sponsor di luar warga HKBP,” pungkasnya. ||| Rait
