Kolase foto Kajatisu Harli Siregar (kiri) dan Kasi Intel yang juga Satgas 53 Indra Hasibuan (kanan). (Foto: Ist/Aktual Online)
AKTUALONLINE.co.id – Medan || Niat Kajatisu Harli Siregar untuk mengembalikan marwah kejaksaan dengan upaya menindak jaksa-jaksa nakal tidak berjalan mulus, padahal sudah susah payah dibangun lewat pernyataan langsung di berbagai media massa selama ini.
Hari ke-83 Harli Siregar menjabat sebagai Kajatisu, Kasi Intel Indra Ahmad Efendi Hasibuan melalukan perlawanan dengan upaya membungkam media untuk menutupi peristiwa pengawalan Jaksa Bidang Intelijen Junio terhadap Bos Mobiler Abdul Rohim Harahap saat melangsungkan pernikahan ketiganya.
Tepatnya 6 Oktober 2025, Indra mengajak Redaksi Aktual Online bertemu di RM Sederhana Tritura dan mendesak agar berita “Belum Jadi Ditangkap KPK, Pernikahan Jilid 3 Bos Mobiler Rohim Harahap Dikawal Jaksa” dihapus.
“Take down (hapus) lah,” pintanya lalu menyuap nasi pakai ayam goreng.
Indra Hasibuan yang merupakan tim Satgas 53 atau jaksa dengan tugas menangkap jaksa nakal, hingga sekarang belum menjelaskan alasannya mengintervensi Redaksi Aktual atas berita tersebut.
Namun, di acara pernikahan jilid 3 Bos Mobiler Abdul Rohim Harahap, memang ada Idianto yang hadir bukan hanya sebagai tamu undangan melainkan saksi pernikahan. Kala itu, Idianto masih menjabat Kajatisu.
Hubungan Idianto dan bos mobiler Abdul Rohim Harahap juga bukanlah kerabat atau saudara. Namun, pengusaha mobiler dengan merek Roha itu memang sedang krisis keamanan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa keterlibatannya dalam kasus DAK Rp176 milir Didik Sumut. Apalagi berhembus kabar ia akan segera ditangkap saat itu.
Harli Siregar tidak menyebut bahwa tindakan intervensi penghapusan berita yang dilakukan Indra Hasibuan adalah perintahnya. Namun, hingga saat ini tidak tampak jelas juga langkahnya saat mengetahui ada tindakan melenceng anggotanya.
“Apa urusan saya di situ,” tulisnya dalam aplikasi perpesanan.
Menurut Praktisi Hukum Jauli Manalu, langkah mengintervensi Redaksi Aktual untuk menghapus berita adalah bentuk perlawanan Indra Hasibuan kepada Kajatisu Harli Siregar dan pembungkaman media.
“Ya patut kita sebut ini adalah bentuk perlawanan Indra Hasibuan dengan Harli Siregar secara nyata. Awalnya mau bersih-bersih tapi ujung-ujungnya membungkam media,” ungkapnya.
Jika memang Kajatisu Harli Siregar tidak mampu mewujudukan komitmennya dalam memberantas jaksa-jaksa nakal, maka lebih baik Kejatisu segera membuat papan pengumuman resmi yang berisi tarif harga sewa jaksa untuk mengawal hajatan.
Sehingga, masyarakat lebih yakin bahwa saat ini Kejatisu lebih terbuka dan jasa pengawalan jaksa dalam hajatan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, bukan hanya Bos Mobiler Abdul Rohim Harahap.
Program ini pun bisa menjadi pilot projek bagi kejaksaan di tanah air dalam berinovasi untuk lebih mendekatkan diri dalam menjaga keamanan dari masyarakat yang membutuhkan.|| Prasetiyo
