AKTUALONLINE.co.id – Medan II Sejak tim internal investigasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) yang dipimpin Prof. Dr. H. Azhari Akmal Tarigan M.Ag ketahuan berbohong, kini Rektor kampus tersebut, Prof Nurhayati makin menguatkan tekadnya untuk bungkam atas kasus dugaan karya ilmiah bodong yang digunakan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dalam mendapatkan akreditasi.
Kebohongan tim internal ketahuan usai Sekretaris Tim Investigasi Internal, Dr. Zulham, M.Hum memaparkan hasil investigasi dan rekomendasi mereka pada Kamis, 22 Februari 2024 lalu, dengan mengkambinghitamkan orang mati, yakni tim penyusun standar penelitian untuk borang akreditasi FIS, yang saat itu dipimpin almarhum Prof. Dr. Ahmad Qorib MA.
Dengan dasar dan proses tidak jelas dalam investigasi, kemudian tim tersebut menyatakan bahwa fakta yang terjadi hanyalah pelanggaran kode etik. Parahnya, tim merekomendasikan 5 hal, diantaranya mencabut berkas pengaduan masyarakat soal dugaan karya ilmiah bodong FIS di Polrestabes Medan, dan menarik informasi yang telah diberitakan di media massa. Mengapa.
Ada berbagai bukti yang sebenarnya telah dikantongi tim Aktual Online saat mengungkap kasus ini. Salah satunya, penelitian berjudul persepsi warga Muhammadiyah terhadap Partai Amanat Nasional (PAN) di Provinsi Sumut dengan nama peneliti yang tercantum berinisial A.
Sekilas melihat cover jilidan penelitian ini, tampak tidak ada yang salah. Apalagi penelitian ini dilengkapi dengan lampiran berupa surat tugas nomor B93/IS/KS.02/7/2016 yang ditandatangani dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU masa itu, Prof Abdullah.
Kejanggalan muncul ketika melihat Bab I, Pendahuluan di halaman pertama. Pembaca langsung dijebloskan mengenai materi soal manajemen. Hingga akhirnya kamuflase judul di cover terbongkar setelah membuka halaman 12.
Di sana dosen A yang mengklaim bahwa penelitian itu adalah miliknya, mengakui secara tertulis bahwa judul karya ilmiah itu sebenarnya adalah manajemen Majelis Taklim Al-Ittihad Mesjid Nur Chadijah Komplek Wartawan. Aduh, ada-ada saja.
Masih di halaman yang sama, seakan-akan tidak bersalah, dalam rumusan masalah si dosen A masih memaksa dimasukkannya 3 persoalan pokok soal persepsi warga Muhammadiyah untuk dibahas.
Namun tetap saja, setelah dibaca berulang-ulang karya ilmiah dengan 99 halaman ini, tidak memiliki ruh soal persepsi masyarakat terhadap PAN. Baik di isi maupun kesimpulan.
Tim Aktual Online tidak berhenti sampai di situ. Judul penelitian milik A ini kemudian tim bandingkan dengan beberapa referensi karya ilmiah milik dosen UINSU lainnya yang pernah dipublikasi dalam jurnal.
Benar saja, tim menemukan bahwa karya ilmiah milik dosen A ini memiliki banyak kecocokan dengan penelitian berjudul persepsi Masyarakat tentang Materi Ceramah Da’i di Kota Medan (Studi pada Anggota Jamaah Majelis Taklim Al-Ittihad) yang terbit di jurnal Analytica Volume 1 No 1 Tahun 2012 dengan peneliti berinisial ATS.
Berulang kali tim Media Aktual Grup menghubungi Rektor UINSU, Prof Nurhayati melalui telpon seluler dan pesan WhatsApp, namun tidak pernah digubris sekalipun.
Direktur Eksekutif Lingkar Indonesia, Tua Abel Sirait menilai bahwa diamnya Prof Nurhayati merupakan trik agar Aktual Online diam dan menyerah karena tidak bisa mendapat konfirmasi. Padahal, persepsi semacam itu merupakan cara berpikir anak kecil atau orang awam.
Semakin jauh seorang pimpinan lari dari kejaran wartawan, artinya semakin kuat dugaan bahwa telah terjadi penyimpangan, serta ada aib yang sengaja ditutupi. Meskipun, orang tersebut membuat pernyataannya melalui laman resmi lembaga, bukan berarti sudah benar dan dianggap selesai.
“Beda produk jurnalistik dengan produk pencitraan dari lembaga. Meskipun kedua-duanya dimuat di laman resmi. Namun, produk jurnalistik itu sudah teruji, melalui hasil kroscek, investigasi. Kalau produk tulisan dari satu sifatnya satu arah, cenderung untuk pencitraan saja. Apa yang dimuat pasti yang baik-baik saja,” terang Abel Sirait, Jumat (22/3/2024) siang.
Jika terus bungkam, Abel Sirait menilai bahwa benarlah bahwa Rektor UINSU, Prof Nurhayati tidak memiliki jiwa seorang pemimpin. Bahkan, dalam waktu dekat, kampus Islam plat merah ini akan menemui masa akhir ketenarannya.II Prasetiyo
