Today

Wali Kota Medan Terperosok di Lubang Parkir, Segini Uang Dipastikan Hilang

Prase Tiyo

AKTUALONLINE.co.id – Medan II Banyak yang geleng-geleng kepala dengan tingkah Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution karena terus terpengaruh dengan bermacam program parkir dari Dinas Perhubungan Kota Medan. Meski telah dua kali gagal, kini ia terperosok kembali di dalam lubang parkir jenis berlangganan.

Bukan tidak mendukung atau ingin mengacau. Memang, parkir berlangganan ini dipastikan gagal ke depannya karena seluruh setoran parkir dari hasil penjualan stiker akan menghilang. Sementara target Pendapatan Asli Daerah (PAD) jadi omong kosong.

Dijelaskan Pengamat Anggaran Elfenda Ananda, kegagalan dari parkir berlangganan ini adalah ketidakjelasan mekanisme program tersebut dari berbagai aspek. Akibatnya, Dishub malah dituntut menjadi tukang jual stiker agar mencapai target marketing.

Uang yang didapat itupun, dipastikan tidak mampu menutup target PAD Rp100 miliar seperti yang di ucapkan Wali Kota Medan Bobby Nasution kepada masyarakat. Pasalnya, setoran yang telah dipungut harus didistribusikan untuk membayar 1.700 tukang parkir, vendor, dan kas.

“Hitungan mereka. Kalau logika mereka gaji, upah Rp2,5 juta belum ada kajian dinyatakan sama Pemko Medan berapa, vendor berapa,” tanya Elfenda Ananda, Kamis (4/7/2024) siang.

Ia yakin, hal tersebut akan menjadi masalah baru yang muncul dalam kebijakan dari parkir berlangganan ini.

Lebih detil, Sekretaris Lingkar Indonesia Arnold Marpaung kepada Aktual Online menguatkan pernyataan dari Elfenda Ananda. Secara logika, kegagalan parkir berlangganan dapat dihitung dengan sederhana dan mudah melalui kalkulasi jumlah kendaraan yang ada di Sumatera Utara.

Sebagai masyarakat umum, ia menganalisis berdasarkan data tahun 2022 yang dipublikasi Badan Pusat Statistik yang menyebut bahwa di Kota Medan terdapat 332.497 mobil dan 232.529 sepeda motor.

Jika 100 persen pemilik kendaraan tersebut taat membeli stiker maka didapatlah penghasilan sebesar Rp43.224.610.000 untuk kendaraan mobil setelah dikali Rp130 ribu sebagai biaya parkir berlangganan satu mobil, dan Rp20.927.610.000 setelah dikali harga stiker sebesar Rp90 ribu untuk sepeda motor.

READ  Tak Terima Ditegur Tutup Akses Masuk, 10 Petugas Dishub Kota Medan Keroyok Seorang Sekuriti P3AKB Sumut

Total pendapatan dari dua jenis kendaraan ini adalah sebesar Rp64.152.220.000 dalam setahun. Uang tersebut tentu bukan hak Pemko Medan sepenuhnya karena ada janji Wali Kota Medan untuk menggaji 1.700 tukang parkir dengan besar Rp2,5 juta perorang dalam satu bulan.

“Artinya, ada kewajiban sebesar Rp4.250.000.000 perbulan atau Rp51.000.000.000 pertahunnya untuk membayar juru parkir,” terang Arnold Marpaung.

Sisa pendapat setelah membayar gaji tukang parkir adalah Rp13.152.000.000, belum lagi dipotong untuk jasa vendor. Jumlah tersebut tentu saja sangat jauh dari target PAD Kota Medan sebesar Rp100 miliar. Padahal, beberapa bulan sebelumnya saat parkir e-parking belum diakui gagal, Pemko Medan hanya menargetkan Rp60 miliar.

Pertanyaan Arnold Marpaung, dari total jumlah kendaraan yang ada, apakah pemiliknya mau membeli stiker tersebut. Vendor yang telah dipercaya untuk melaksanakan e-parking sebelumnya juga kemana. Jika memang ada pengulangan atau penunjukan vendor, mengapa tidak terbuka agar dapat diketahui publik.

Paling menjengkelkannya, masyarakat di Kota Medan dibuat kaget dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 26 Tahun 2024 tentang Petunjuk Pelaksanaan Parkir Berlangganan yang menjadi dasar hukum parkir model tahunan ini, nampaknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari publik.

“Loh, ternyata ada Perdanya. Coba ngomong, kapan ini dibuat. Masyarakat mana yang dimintai pendapatnya sebelum disahkannya perda ini,” tanyanya bingung.

Fakta ini menunjukkan betapa rentannya posisi Bobby Afif Nasution yang mudah percaya tanpa menyaring secara matang masukan jajarannya, meskipun terbukti kontra dan labil serta selalu memberi pernyataan yang berubah-ubah di media massa soal kebijakan yang mereka buat.

Hingga saat ini, Kadishub Kota Medan Iswar Lubis masih menutup diri untuk diwawancara Aktual Media Grup. II Prasetiyo

READ  ‎Gudang Gas Oplosan Milik Oknum Aparat Inisial TED Bebas Beroperasi di KIM 3

Related Post