Mantan Kadishub Medan Iswar Lubis. (Foto: Ist/Aktual Online)
AKTUALONLINE.co.id – Medan || Akhir pengunduran diri Iswar Lubis dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Medan dinilai negatif oleh banyak pihak, lantaran banyak meninggalkan banyak masalah serius.
Pengamat Anggaran Elfenda Ananda kembali menyinggung soal mimpi-mimpi indah surplus pendapatan di akhir tahun 2024 dari penerapan kebijakan parkir konvensional gratis, e-parking yang kemudian berubah menjadi parkir berlangganan, hingga mampu menggaji 1.700 juru parkir di Kota Medan.
Hingga masuk tahun 2025, keberhasilan program parkir konvensional maupun parkir berlangganan itu hanyalah isapan jempol saja. Masyarakat yang sempat mematuhi kebijakan tersebut kini terang-terangan mengungkap kekecewaan mereka terhadap kutipan ganda uang parkir.
“Kabar mengejutkan mundurnya Iswar Lubis dari jabatan kepala dinas Perhubungan kota Medan disebabkan alasan Kesehatan ditengah berbagai persoalan serius dibidang perhubungan kota Medan antara lain persoalan pemberlakuan dua system pembayaran parkir ditepi jalan umum yakni parkir berlangganan dan pemberlakuan perda parkir No.1 tahun 2024 yang menggunakan cara konvensional dengan tarif Rp3 ribu, untuk kendaraan roda dua dan Rp5 ribu untuk kendaraan roda empat,” terangnya, Kamis (9/1/2025) siang.
Tonton juga wawancara khusus kami melalui Aktual Channel
Kini, tukang parkir di Kota Medan juga secara terang-terangan menunjukkan perlawanan terhadap kebijakan yang disahkan oleh Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution dengan mengutip uang parkir terhadap kendaraan berstiker parkir langganan. Bisa jadi, hal ini sebagai imbas tidak jelasnya iming-iming gaji Rp2,5 juta jelang Pilgubsu lalu.
Elfenda Ananda menduga peristiwa itu dipengaruhi oleh memudarnya kekuatan Bobby Afif Nasution seiring berakhirnya masa jabatan Presiden Joko Widodo selaku mertua.
“Banyak pihak ketiga yang takut untuk berbenturan dengan walikota karena posisinya sebagai menantu presiden RI. Namun, kelihatannya itu tidak berlangsung lama, karena dalam berbagai viral di media sosial juru parkir saja sudah tidak takut lagi dan tetap mengutip parkir konvensional walaupun sudah memiliki stiker parkir berlangganan. Jika dibandingkan saat mertua masih berkuasa, tentunya kalau ada kejadian seperti ini besoknya sudah viral jukir akan diangkut oleh petugas kemanan dan akan minta maaf,” bebernya.
Dana pinjaman dari World Bank untuk membangun infrastruktur bus massal pelan-pelan juga menuai titik gelap. Bahkan, Elfenda Ananda memprediksi adanya bus listrik hanya akan membuat kemacetan parah karena pengadaannya berlawanan dengan program pengutipan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor.
Hingga akhirnya, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dikarenakan sudah membayar pajak, dan dirasa lebih mendukung mereka untuk hilir mudik ke banyak tempat yang tidak dijangkau oleh bus listrik.
Melihat masalah-masalah serius ini, Elfenda Ananda tidak yakin dengan pemaparan keberhasilan realisasi APBD 2024 yang disampaikan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Medan Zulkarnain di media massa yang menyebut telah optimal dan sehat.
Pengunduran diri yang dilakukan Iswar Lubis bukan berarti problem yang terjadi bisa diabaikan begitu saja dan ia dapat bebas dari jerat masalah yang terjadi. Elfenda Ananda menyarankan agar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit investigasi terhadap penggunaan anggaran di Dishub Kota Medan. Karena ia masih optimis bahwa pemeriksaan lembaga ini lebih kompeten dibanding inspektorat seperti yang pernah dijalani Iswar Lubis beberapa waktu lalu. || Prasetiyo




