22.9 C
Indonesia
Kamis, 7 Mei 2026

Kasus DBD dan Malaria Masih Jadi Ancaman Serius di Aceh Singkil, Warga Diminta Aktif Lakukan PSN

Berita Terbaru

AKTUALONLINE.co.id – ACEH SINGKIL ||| Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria masih menjadi persoalan kesehatan serius di Kabupaten Aceh Singkil. Dinas Kesehatan setempat mengimbau warga untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara gotong royong.

“Kami saat ini sedang melakukan fogging di area yang terindikasi sebagai sarang nyamuk DBD,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Mursal, kepada awak media pada Rabu, 14 Mei 2025.

Namun demikian, Mursal menegaskan bahwa fogging bukanlah solusi utama. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah preventif yang paling efektif. “Faktor yang memengaruhi kesehatan terdiri dari lingkungan, perilaku, genetik, dan pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Mursal juga mengingatkan bahwa upaya pencegahan penyakit seperti DBD dan Malaria memerlukan peran aktif seluruh masyarakat. Ia mengajak warga untuk terus membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Terkait sebaran kasus DBD, Mursal menyebutkan bahwa tiga kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi adalah Simpang Kanan, Gunung Meriah, dan Singkil, dengan total 32 kasus tercatat dalam empat bulan pertama tahun 2025.

Sementara itu, Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria masih berlangsung di Kecamatan Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat. Status KLB yang diberlakukan sejak Mei 2024 belum dicabut hingga saat ini. Tercatat 32 kasus baru dalam empat bulan terakhir, mayoritas terjadi di wilayah Pulau Banyak, dengan total keseluruhan mencapai 134 kasus.

*Minimnya Dokter di Puskesmas Jadi Sorotan Wakil Bupati
Di tengah persoalan wabah penyakit ini, Wakil Bupati Aceh Singkil, Hamzah Sulaiman, menyoroti keterbatasan tenaga dokter di Puskesmas Kota Baharu. Saat menghubungi langsung Kadis Kesehatan Mursal, Hamzah meminta agar layanan dokter di puskesmas tersebut ditingkatkan menjadi penuh waktu (full time) selama sepekan, bukan hanya dua kali dalam seminggu.

Menanggapi hal tersebut, Mursal menjelaskan bahwa saat ini telah diperbantukan dokter berstatus kontrak, namun mereka hanya bertugas dua hari dalam seminggu. Menyikapi permintaan Wakil Bupati, Mursal akhirnya menyatakan kesiapannya untuk memenuhi harapan tersebut.

Dalam keterangannya kepada awak media, Mursal menyebut bahwa rasio satu dokter untuk setiap 5.000 penduduk sebenarnya sudah dianggap ideal. Namun saat ditanya mengenai penumpukan tenaga dokter di wilayah tertentu, Mursal memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut.

Sebagai solusi, Mursal menyampaikan pentingnya pemberian insentif tambahan agar para dokter bersedia ditempatkan di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Ia juga menyatakan bahwa program penempatan tenaga medis di wilayah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal) masih terus berjalan. ||| Gunawan

Baca Selanjutnya

Berita lainnya