AKTUALONLINE.co.id MEDAN |||
Menjaga Inflasi Merupakan Bahagian Tugas Perum Bulog. Hal itu dikatakan Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumut, Budi Cahyanto kepada AKTUAL usai Konfrensi Pers yang digelar Diskominfo Sumut dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM, Kepala Biro Ekonomi Pemprovsu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Bank Indonesia dan Kepala Bulog Sumut, Jumat, (20/10-25) di Lobby Deskranasda Lt 1 Kantor Gubsu, Jl. Diponegoro Medan.

Temu Pers yang digelar tersebut bertajukan “Pengendalian Inflasi dengan pendistribusian Komoditas Pangan di Sumatera Utara”.
Lebih jauh dijelaskan Budi, bahwa pendistribusian beras SPHP (Stabilitasi Pasokan dan Harga Pangan) sudah hampir merata di Sumatera Utara.
‘Cuma kadang – kadang dalam pendistribusian beras SPHP ini, pihaknya agak kesulitan, misalnya Nias Barat, selain jaraknya jauh, juga ada jembatan yang putus, jadi tingkat inflasi agak tinggi”, ungkap Budi.
Namun pihaknya berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan diberikan angkutan gratis, sehingga beras SPHP dapat didistribusikan tanpa khawatir SPHP dijual melampaui HET.
“Jadi, harga jual beras di depan gudang Bulog di Gunung Sitoli Rp.11.300/kg biaya ongkos angkut ke Nias Barat nanti di tanggung Bank Indonesia sehingga harga jual disana bisa tetap di bawah Rp13.100/kg sesuai HET” ujarnya.
Ditambahkan Budi, penyaluran SPHP ini dibuka lagi atau diperintahkan oleh pemerintah sejak Tanggal 12 Juli 2025 hingga sampai akhir Tahun 31 Desember 2025 dan pihaknya melaksanakan pendistribusian atau penyalurannya dilakukan setiap hari, Senin sampai Minggu, sampai Senin lagi. Setiap Hari ada penyaluran SPHP dan itu tidak tergantung kepada IPH (Indeks Perkembangan Harga)
“Nggak, nggak..Tidak tergantung IPH,Jika ada permintaan penyaluran, misalnya dari Dinas Ketahan Pangan atau Pemerintah Daerah, Bulog akan menyalurkannya”, ujarnya.
Jadi Bulog mempunyai tugas mendistribusikan beras murah SPHP kepada masyarakat, dan menjaga inflasi itu, menjadi bagian tugas kita Perum Bulog, tambahnya lagi.
Disinggung Stok Beras di Perum Bolug jelang Nataru tahun 2025, Budi mengatakan saat ini di gudang Bulog ada sekitar 62.000 Ton dan itupun pihaknya akan tetap menyerap hasil panen beras dari Petani, dengan harga Rp.6.500/Kg. Tapi kalau lebih dari harga itu, Petani bisa menjualnya kepada pihak lain.
Seperti diketahui kata Budi lagi, saat ini gejala pasokan ke pasar sudah mulai menurun sehingga penyerapan dari petani agak “ngerem” dan pasokan dari Bulog ke pasar makin kita tambah dengan mendistribusikan beras SPHP.
Budi Cahyanto dalam kesempatan ini, mengumumkan melalui media, Pastikan harga Gabah dari Petani minimal Rp6.500/kg.
Artinya, sudah dipanen dan dimasukkan dalam karung plastik diletakkan dipinggir jalan untuk siap diangkut, bukan ditengah sawah nanti biaya pekerjanya, siapa yang bayar, ujarnya tersenyum.
Untuk diketahui, penyaluran beras SPHP ini, adalah program pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog. Tujuannnya, untuk menjaga kesetersediaan dan keterjangkauan beras dipasaran saat harga melonjak.||| Ramli Sarumaha
Editor : Zul
