AKTUALONLINE.co.id – Perspektif II Sungguh kawat dibentuk, ikan ditebat yang diadang. Ada tipu muslihat tersembunyi untuk memenangkan sesuatu, demikian arti sederhananya. Pribahasa tersebut kami munculkan untuk mengundang memori kita soal Pemilu dan jalannya pemerintahan saat ini juga ke depan.
Mungkin Analisis kita berbeda dalam melihat percaturan politik di Pilpres tahun 2024. Meski demikian, untuk di Sumatera Utara, kami memiliki catatan penting guna anda sadur menjadi referensi penguatan rasa percaya diri terhadap tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih saat Pemilu nanti.
Omong kosong jika ada masyarakat Sumatera Utara yang mengatakan mengenal seratus persen ketiga capres dan cawapres, kecuali memang memiliki ikatan kekerabatan atau saksi atas perbuatan mereka. Semua kandidat dikenalkan oleh media massa, media sosial hingga relawan maupun tim kemenangan masing-masing di tiap daerah. Wajar saat ini kita masih gampang termakan hasutan dan saling membenci hanya karena berbeda pilihan.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh KPU RI, jumlah pemilih untuk 2024 dari Sumatera Utara dicatat sebanyak 10.853.940 orang dari 33 Kabupaten/Kota atau menempati urutan keempat setelah Jawa Tengah (35.714.901), Jawa Timur (31.402.838) dan Papua Barat Daya (203.056.748).
Suara dari populasi ini akan terpecah kepada 3 nomor capres dan cawapres yang ada dengan berbagai alasan dan faktor, seperti anggota partai politik, partisipan politik, relawan, ikut-ikutan atau memiliki motivasi sendiri. Namun yang jelas, hingga saat ini belum ada kontestan yang berani memberi jaminan bahwa saat salah satu jagoan tersebut mendapat kursi di istana, masyarakat bisa merajut komunikasi tanpa bertele-tele, seperti saat mereka berkampanye.
Benar jika ada yang menjawab karena mereka presiden dan tidak mengurusi urusan kecil, ada menteri, gubernur, wali kota hingga dinas terkait. Lantas, jika persoalannya mentok, genting, dan butuh atensi, kemana keluhan ditujukan. Oh iy, masih ada timses. Apakah saat ini para juru kemenangan tersebut telah membangun komitmen nyata untuk masyarakat.
Di Sumatera Utara, Tim Kampanye Daerah (TKD) Pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar dikomandoai oleh mantan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi. Siapa yang tidak mengenal sosok pria kelahiran 10 Maret 1961 ini, meski dalam beberapa pemberitaan disebut tempramen, namun mantan pangkostrad tersebut tegas dan berani mengambil keputusan.
Jika masih kurang yakin, ingat saja proyek Rp2,7 T yang diadakan saat ia menjabat Gubernur Sumut. Pelaksanaan benah-benah infrastruktur dengan anggaran fantastis itu tetap dilanjutkan meski telah diingatkan menabrak regulasi. Sekarang barulah efek domino terjadi. Mulai dari tidak terpenuhinya kesepakatan capaian, pemecatan Kadis PUPR Sumut Bambang Pardede saat itu, hingga mundurnya Kadis penggantinya Marlindo Harahap Mundur.
Ada lagi kasus pengadaan tanah sport centre di Desa Sena yang penuh ambisi, sampai-sampai keluar pernyataan siap menjadi orang pertama masuk neraka setelah media Aktual Online membeberkan fakta-fakta yang disembunyikan dalam proyek itu.
Kalau pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto – Gibran Raka Bumingraka menunjuk Ade Jona Prasetyo sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Sumut. Pamor Ade Jona tidak kalah jauh dari mangan Gubernur Edy Rahmayadi. Reputasinya langsung melejit bersamaan dengan dilantiknya Bobby Afif Nasution, menantu Presiden RI Jokowi sebagai Wali Kota Medan.
Latar belakang Ade Jona adalah pengusaha, bukan politikus. Namun, Ketua Himpunan Pengusaha Mudah Indonesia (HIPMI) Sumut ini selalu dikabarkan pasang badan untuk setiap pembangunan yang dilakukan Pemerintahan Bobby Afif Nasution.
Misalnya, membela menantu presiden tersebut saat dikritik Politikus Senior PDIP, Panda Nababan. Atau digadang-gadang mengkoordinir proyek-proyek besar infrastruktur di Medan, itupun hanya desas-desus saja.
Pasangan calon Ganjar Pranowo – Mahfud MD juga menunjuk seorang berlatarbelakang pengusaha sebagai Ketua Tim Pemenangan Daerah (TPD) Sumut, yakni Paul Baja Siahaan. Ia mewarisi kemampuan pengelolaan kebun sawit dari sang ayah, Lintong Mangasah Siahaan. Meski begitu, ia merupakan pendatang baru dalam dunia politik. Yang jelas, ketua tim sukses paslon nomor urut 2 dan 3 bisa disebut kurang populer.
Harus diakui pula ketiga tim pemenangan kurang meyakinkan untuk menjual komitmen dari masing-masing capres dan cawapres yang mereka promosikan bagi Sumatera Utara. Dalam dialog publik yang diinisiasi Media Aktual Grup pada 12 Januari 2024, masing-masing tim pemenangan hadir dan memberikan pemaparan terbaik versi mereka.
Beberapa persoalan di Provinsi ini disinggung. Mulai soal ganti rugi lahan masyarakat di Kecamatan Sibiru-biru yang dipakai untuk bendungan Lau Simeme, masalah revitalisasi cagar budaya Lapangan Merdeka Medan, Proyek Rp2,7 T yang diharapkan berujung menyenangkan, hingga dilematis tenaga kerja lokal gang tergerus pekerja Cina di proyek dengan pembiayaan dari Tiongkok berbentuk utang, seperti dalam pengerjaan PLTA Simarboru Tapanuli Selatan.
Yang berani menjawab secara lugas dan lebih meyakinkan saat itu adalah Jubir Darat Timnas AMIN, Sahat Simatupang. Menurutnya persoalan ini ditengarai oleh kebijakan dari pemerintah masa ini yang tidak matang dan cenderung mementingkan cawe-cawe. Akibatnya, program yang sudah dirancang tidak menciptakan output yang berpihak pada kesejahteraan rakyat ataupun memperbaiki ekonomi negara.
Sahat Simatupang saat itu berusaha tidak mendoktrin. Tapi omongannya soal kesempatan dua periode dan partai penguasa yang sama sudah harusnya berganti dengan pemimpin dengan pemikiran konstruktif untuk kesejahteraan masyarakat, bukan menjual pencitraan dengan melibatkan kaum-kaum buzzer, atau pemberian sejumlah uang agar memilih.
Sebagai media yang selalu melontar kritik, kami juga sering disuguhkan dengan kesaksian masyarakat kelas bawah soal susahnya hidup di masa ini, bahkan penyaluran bansos di beberapa wilayah juga tidak sesempurna pemberitaan, sebab tidak cukup untuk menanggung beban dengan anggota keluarga yang banyak. Banyaknya muncul pelaku UMKM di pinggir jalan ternyata karena suatu keterpaksaan, sulitnya mencari kerja. Sayang, tidak ada yang berani menyuarakan keluhan tersebut dengan alasan takut atau tidak ada gunanya berkoar-koar.
Era keterbukaan juga bergeser tipis-tipis, khususnya di Sumatera Utara. Bukan soal jeratan UU ITE. Namun pemerintah saat ini telah menidurkan pers dengan informasi satu pintu berbentuk rilis. Wartawan telah didata menjadi aset instansi. Jika tidak bergabung dalam gerbong, dan tidak dikenal beberapa pejabat mengabaikan konfirmasi. Lain hal jika berita yang disajikan tanpa pernyataan mereka tadi viral, maka wartawan dituduh tidak seimbang, tendensius.
Sebenarnya tidak demikian. Hendangnya cuma dua, jika memang pejabatanya tidak mampu berkomunikasi dengan wartawan, sudah pasti si pemegang kuasa memang salah sehingga mencari celah untuk menghindar dan memanfaatkan media massa lain untuk menutupi boroknya dalam kemasan berita capaian kinerja.
Kami juga telah menyadari bahwa mengedukasi masyarakat apatis dengan berbagai cara juga merupakan usaha sia-sia. Nomor piro wani piro masih menjadi satu penantian di pesta demokrasi ini. Meskipun begitu, jauh di lubuk hati terdalam, saat ini kita butuh perubahan di bumi pertiwi. Mengadu gampang dan gratis, biaya pendidikan murah dan merata, kebutuhan pokok terjangkau, berobat tidak lagi dipersulit karena persoalan uang, serta diperhatikannya lapangan pekerjaan bagi masyarakat, bukan bantuan dengan antrian panjang saat mengambilnya.
Sekarang tinggal kepentingan kita. Golput juga bukan solusi. Meski para timses yang ada tidak bisa dipercaya, kita tetap harus menggunakan hak suara. Agar tidak salah, kami mengingatkan untuk tidak banyak mengkonsumsi materi dari para buzzer yang bisa menyesatkan. Tanya saja hati, datangi para tetua atau ulama yang belum terkontaminasi gratifikasi untuk berdiskusi. Hati-hati, ada tipu muslihat dalam politik. Ayolah, ke TPS dan kawal Pemilu 2024. II Prasetiyo (Penulis adalah pengasuh rubrik Perspektif)
*Anda juga dapat mengirimkan tulisan maksimal 1.500 kata disertai identitas dan biodata lengkap ke redaksi kami.




