AKTUALONLINE.co.id – Jakarta || Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan hingga menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini memaksa para pelaku pasar untuk mengantisipasi langkah pengetatan moneter yang lebih agresif dari Bank Indonesia (BI).
Dikutip oleh Aktual Online dari Bloomberg Technoz, fluktuasi rupiah menunjukkan volatilitas tinggi sejak awal tahun, dengan kondisi yang semakin memburuk pada kuartal kedua 2026. Hingga saat ini, rupiah telah turun sebanyak 7,08% sepanjang tahun. Pada Kamis siang, nilai tukar mata uang Garuda semakin merosot, mencatatkan angka Rp18.045 per dolar AS pada pukul 12:30 WIB.
Pelemahan ini memicu prediksi di kalangan ekonom bahwa BI kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuan dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist dari Mega Capital Sekuritas, memperkirakan bahwa pelemahan rupiah yang sudah melewati angka Rp18.000 per dolar AS dapat mendorong kenaikan BI Rate sebesar 50 hingga 70 basis poin.
Sementara itu, Ekonom UBS, Grace Lim, meramalkan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps masing-masing pada Juni dan Agustus mendatang. Prediksi tersebut didasarkan pada tekanan berkelanjutan terhadap nilai rupiah di tengah ketidakpastian kebijakan, kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dan fiskal, serta volatilitas arus modal asing.
Dalam catatannya, Lim bersama tim strategi valuta asing UBS mencatat bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kebijakan makroekonomi yang belum pasti serta fluktuasi aliran modal dari investor asing.
Pelemahan rupiah yang signifikan ini juga berimplikasi pada meningkatnya arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan hari ini, terjadi arus keluar dana asing sebesar Rp993,29 miliar di seluruh pasar saham. Di pasar reguler saja, investor asing melepas kepemilikan saham senilai Rp864,07 miliar.
Patut dicatat bahwa dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo telah mengambil langkah kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,75%, yang melampaui ekspektasi para ekonom yang sebelumnya memprediksi kenaikan hanya sebesar 25 bps.
Namun demikian, walau BI telah menaikkan suku bunga di atas ekspektasi pasar, pelemahan rupiah masih tetap berlanjut akibat tekanan eksternal dan internal yang signifikan.|| Int
Editor: Prasetiyo






