Tim Pidsus Kejatisu saat menggeledah kantor PT. Inalum 13 November 2025 lalu. (Foto: Ist/Aktual Online)
AKTUALONLINE.co.id – Batubara || Hampir 3 pekan, kasus PT. Inalum masih mengambang bak tersapu banjir Kota Medan. Hingga saat ini, Kejatisu tidak kunjung mengungkap temuan alat bukti mereka dari hasil penggeledahan pada 13 November 2025 silam.
Tidak ada raksasa di belakang kasus PT. Inalum ini. Kepala Kejatisu Harli Siregar, Kamis (4/12/2025) siang yang dihubungi Aktual Online juga belum memberikan konfirmasinya soal keterlambatan mereka memaparkan alat bukti awal kasus yang mereka sebut-sebut telah didalami.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Aktual Online dalam kasus PT. Inalum, pernyataan resmi Kejatisu soal adanya tindak pidana korupsi penjualan aluminium tahun 2019 terlalu dangkal.
Dokumen yang didapatkan Aktual Online menyebut bahwa permainan di PT. Inalum mencatat ada sebuah perusahaan induk bernama PT. AWS yang sudah dijalankan secara turun menurun untuk menguasai proyek hingga mematikan PT. Indonesia Aluminium Alloy (IAA), anak perusahaan plat merah ini.
Di PT. Inalum, perusahaan yang turun dari bapak ke anak ini membuat taktik perusahaan bayangan, atau menciptakan banyak perusahaan seakan-akan seperti saingan padahal untuk menguatkan ekspansi monopoli.
RWY bekerjasama dengan eks Karyawan perusahaan membentuk 3 perusahaan lainnya yakni PT.CJP, PT. BDS, PT. CKY dan menciptakan anak perusahaan boneka mereka, yakni PT.GNG, PT. ISB, PT.AN, PT.SAP, dan PT.MJP.
Sebelumnya, Praktisi Hukum Jauli Manalu mengingatkan Kajatisu Harli Siregar untuk tidak main mata. Ia tidak mau nama harum yang telah diperoleh sejauh ini berubah menjadi cemoohan publik terhadapnya.
“Ya kalau dari data penelusuran Aktual Online, saya sudah yakin. Data yang disajikan Aktual Online selalu akurat. Saya menganalisa ada yang tidak beres memang. Mengapa PT. AWS ini tidak diusut. Kalau penjualan aluminium ini geleng pak. Sekarang yang lebih rugi negara, mengapa PT. IAA yang dibangun oleh PT. AWS tidak beroperasi, mengapa kerjaan yang harus dikerjakan PT. IAA diambil oleh anak perusahaan PT. AWS,” ungkapnya keras.|| Prasetiyo




