Today

Doa di Atas Kayu Besar Banjir Bandang Sarulla, Warga: Lasdo Rohanami Ale Marukkil Hami

Prase Tiyo

Koordinator PMPHI Sumut Gandi Parapat (kanan bawah) dan belasan warga Desa Sarulla Kecamatan Pahae Jae melakukan doa, Minggu (12/1/2025) kemarin di atas kayu-kayu besar yang terseret banjir bandang. (Foto: Ist/Aktual Online)

AKTUALONLINE.co.id – Tapanuli Utara || Belasan warga Desa Sarulla Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara melakukan doa bersama dengan berdiri di atas potongan kayu yang masih berserak karena terseret banjir bandang akhir Tahun 2024 lalu.

Mereka memejamkan mata sembari mengajak Tuhan untuk berkomunikasi.  Dalam doa, mereka seakan-akan berusaha ikhlas namun masih mengingat pemukiman serta ladang-ladang mereka yang ditanami telah rata tersapu air dan tertimpa kayu-kayu besar.

Martamiang ma Hita. Ale Amanami nadibanua ginjang, pinuji dipasangap goar Mu dibagasan sadarion, jala dilehon hodope Tuhan haipason tuhami boi hami pungu di inganan on, ima inganan bencana alam naro. lasdo rohanami, ale marukkil hami,” ujar mereka dalam munajat, Minggu (12/1/2025) kemarin.

(Red. Kami mengucap syukur pada Tuhan hari ini karena masih diberi Kesehatan, di tempat ini ya itu tempat bencana alam, yang datang banjir bandang, senang hati kami, tapi kami menderita)

Ada alasan rasa senang dan juga menderita mereka rasakan secara bersamaan. Senang karena tidak ada korban jiwa, tapi menderita karena harta maupun lahan yang menjadi sumber kehidupan mereka kini berganti dengan tumpukan-tumpukan kayu yang mereka duga kuat hasil penebangan dari hutan.

Koordinator Wilayah Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Sumut Gandi Parapat membeberkan penyebab banjir bandang yang menghancurkan pemukiman masyarakat Desa Sarulla Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara akhir tahun 2024 lalu.

Hasil investigasinya secara langsung di lokasi terdampak banjir bandang, bencana alam tersebut disebabkan oleh penebangan pohon. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya potongan pohon terdampar di aliran banjir bandang yang ditemukan.

READ  Diduga Amburadul, Mutu Pembangunan 103 Unit Huntap di Adiankoting Disorot

“Kayu-kayu ini bekas tebangan, buktinya tidak ada akar,” beber Gandi Parapat, Santu 11 Januar 2025 lalu dalam sebuah video di lokasi terdampak banjir bandang.

Ia juga menyebutkan bahwa muasal perkara banjir bandang ini diduga berasal dari ulah PT. Sarulla Nauli Lestari (SNL) yang pernah ditutup di masa Presiden Megawati Soekarno Putri.

Dampak buruk aktivitas perambahan hutan oleh PT. SNL baru berimbas sekarang akibat adanya lubang raksasa yang dahulunya digunakan PT. SNL untuk pengawetan kayu-kayu hasil tebangan.

Ia dan masyarakat sekitar meyakini bahwa lubang-lubang yang dibuat PT. SNL itu telah usang dan merusak ketahanan tanah hingga akhirnya tidak mampu menahan lebih banyak debit air dari curah hujan dan mengakibatkan longsor.

Melalui pemberitaan ini, Gandi Parapat berharap kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara agar turun tangan melakukan pengecekan secara langsung titik lubang pengawetan kayu tersebut dan melakukan tindakan nyata agar banjir bandang serupa tidak terulang di Pahae Jae.|| Prasetiyo

Related Post