AKTUALONLINE.co.id – Perspektif II Teknologi komunikasi, informasi dan media baru yang berhasil mengubah pola komunikasi dan pencarian informasi menjadi faktor yang berkontribusi besar dalam perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya dalam gaya berkomunikasi dan pencarian informasi.
Semenjak booming internet pada awal milenium ketiga, kita bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang apa pun. Internet juga memungkinkan orang untuk saling berkomunikasi menggunakan fasilitas surel, media sosial, dan juga layanan perpesanan.
Sarana komunikasi jarak jauh ini jamak digunakan untuk berbagai keperluan. Jika kita kemudian menengok kepada konteks budaya kerja, kondisi tersebut juga mengimbas kepada pola relasi kerja.
Hari ini orang tidak lagi melulu bergantung pada komunikasi tatap muka dengan rekan kerja atau mitra untuk menyelesaikan pekerjaan. Internet telah memungkinkan komunikasi dan koordinasi jarak jauh tanpa harus bertemu secara langsung. Sehingga sebuah pekerjaan bisa dikerjakan tanpa harus selalu bertemu secara langsung.
Pemaknaan entitas kantor juga mulai bergeser dari yang sebelumnya berupa kantor fisik tempat di mana para pekerja sebuah perusahaan bekerja bersama, menjadi kantor virtual di mana pengaturan operasional dan fungsional kantor dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi komputer seperti PC, laptop, ponsel dan akses internet.
Sehingga sistem tersebut memungkinkan orang-orang untuk bekerja dari mana pun. Ini yang menjelaskan tentang menjamurnya kafe-kafe atau coffee shops utamanya di kota-kota besar yang dimanfaatkan sebagai tempat kerja. Dimana mayoritas penggunaannya adalah anak-anak muda.
Kita juga mengenal entitas tempat yang disebut dengan coworking space, sebuah ruang publik yang didesain dengan fasilitas layaknya sebuah kantor, memiliki layanan konsumsi makan-minum serta tentu saja koneksi internet super cepat.
Tempat ini kini marak digunakan sebagai tempat bekerja oleh orang-orang yang mengerjakan pekerjaaan yang berbeda-beda dan tidak hanya berasal dari satu kantor.
Tempat seperti coworking space muncul sebagai respon atas semakin maraknya gaya bekerja virtual. Selain tempat publik seperti coworking space, tidak sedikit juga orang yang memasang fasilitas internet di rumahnya untuk mendukung keperluan-keperluan pekerjaannya. Maraknya gaya kerja virtual ini bahkan telah memunculkan sebuah sebutan yaitu perantau digital (digital nomad).
Perantau digital adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan mereka menggunakan teknologi digital dan dapat bekerja di mana saja. Mereka berhubungan melalui internet dengan rekan kerja atau perusahaan yang menyewa jasa mereka. Di Indonesia sendiri, gejala ini sudah mulai muncul dengan banyaknya orang yang terlibat sebagai freelancer dalam berbagai proyek pekerjaan seperti penelitian, konsultansi, penulisan, dan sebagainya.
Mereka bekerja tanpa terikat waktu dan kerap menggunakan fasilitas internet di rumah atau di tempat-tempat publik seperti coworking space ketika menggarap pekerjaannya. Gaya bekerja semacam itu terasa cocok dengan karakter generasi muda milenial yang memandang hidup serba optimis dan penuh peluang.
Milenial juga generasi yang hampir mustahil dilepaskan dari teknologi komunikasi dan informasi digital. Mereka tumbuh dalam keluasan komunikasi dan keleluasaan informasi yang membuat mereka merasa percaya diri dan merasa dapat menjalani hidup secara mandiri. Dalam konteks pekerjaan, merasakan pengalaman kerja yang dinamis dan mencari pengetahuan baru menjadi sesuatu yang dicari oleh para milenial.
Hal tersebut didorong oleh gairah para milenial akan pengembangan kapasitas diri yang cukup besar. Sehingga mereka menjadi kelompok generasi yang tidak sungkan untuk berpindah pekerjaan jika pekerjaan atau kondisi tempat bekerjanya dirasa tidak sesuai lagi dengan jiwanya.
Bermodalkan skill khusus yang dimiliki, mereka juga bisa menjadi pekerja lepas di berbagai perusahaan atau secara mandiri membangun karir di sektor wirausaha. Mereka bisa bekerja kapan saja dan cenderung merasa nyaman dengan identitas profesi yang mereka sandang.
Maka menjadi lumrah jika kita dapati hari ini, misalnya seorang desainer grafis usia milenial melakukan kerjasama dengan berbagai perusahaan untuk membuat atau merenovasi logo perusahaan tanpa harus secara fisik hadir di kantor atau bekerja secara permanen.
Demikian juga dalam semesta media massa khususnya media daring, terdapat portal informasi yang memiliki banyak konten kreator usia milenial yang bekerja lepas kepada mereka. Tidak sedikit juga milenial yang memilih karir sebagai professional mandiri, membangun kreatifitas dalam sektor wirausaha menggunakan platform digital. Kemampuan memproduksi gagasan yang dapat dikonversi menjadi karya, produk atau layanan yang baru atau inovatif serta bermanfaat menjadi sebuah tantangan para pekerja milenial saat ini.
Sebagai generasi yang kondang dengan karakter kreatif, inovatif dan produktif, generasi milenial menyambut hangat tantangan tersebut dan berlomba-lomba mengembangkan dan membuktikan kapasitas diri mereka melalui aktifitas pekerjaan yang didominasi oleh ketajaman dan kebaruan gagasan. Terlebih pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas memang semakin dicari dan dibutuhkan di era digital. II Cut Maulita (Penulis adalah mahasiswa manajemen Universitas Pembangunan Pancabudi Medan)
Editor: Prasetiyo
