20 C
Indonesia
Selasa, 14 April 2026

Hitungan Bulan, Tembok Gapura Batas Kota Medan Pecah-Pecah

Berita Terbaru

AKTUALONLINE.co.id MEDAN ||| Baru saja heboh kasus lampu pocong hingga dipecatnya Syarifuddin Irsan Dongoran selaku KadisĀ  Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Medan, kini mencuat pula persoalan proyek gapura batas Kota Medan yang temboknya mulai pecah-pecah. Padahal proyek ini masih berumur bulan.

Misalnya, gapura yang terletak di jalan Pinang Baris, pantauan www.aktualonline.co.id, Jumat (12/5/2023) siang, tidak hanya dinding yang retak di beberapa bagian, namum realisasi pembangunannya sangat jauh dari desain yang dipamerkan ke publik.

Jika dicermati, rancangan gambar menunjukkan adanya motif tepak sirih untuk mengganti motif melayu yang telah diruntuhkan. Nyatanya, simbol budaya yang telah direncanakan tersebut hanya angan-angan.

Belum lagi jika dilihat dari arah Binjai ke Kota Medan, sketsa Masjid Raya sebelah kiri dan Istana Maimon sebelah kanan harusnya rangkai dengan garis berwarna kuning dengan background berwarna coklat. Namun, hasilnya hanya berupa siluet hitam denga backround warna putih.

Sama halnya ukiran di tiap tiang gapura yang direncanakan dalam gambar, tidak terwujud dalam pembangunan. Malah, jika dilihat dari jarak yang dekat, pilar gapura penuh dengan retakan. Termasuk rencana pembuatan taman di bawahnya dengan hiasan pohon juga isapan belaka. Sisa-sisa material bangunan masih dibiarkan menimbun beberapa titik, dan rumput-rumput liar tumbuh subur.

Lain halnya gapura yang ada di Jalan Sisingamangara. Berjalanlah malam hari dari arah Tanjung Morawa, maka akan didapati lampu penerangan gapura haya hidup di sisi kanan saja.

Sementara itu, Kadis Perumahan Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang (PKP2R) Kota Medan, Endar Sutan Lubis yang dikonfirmasi terkait hal itu hanya mengatakan akan melakukan pengecekan.

Berdasarkan data yang dimiliki www.aktualonline.co.id, pengerjaan proyek gapura sejak awal sudah nampak bermasalah. Mulai dari papan informasi yang tidak lengkap dan letaknya jauh dari dari pantauan publik, muncul protes karena simbol kerbau yang tidak menggambarkan budaya karo, hingga waktu pengerjaan yang molor. ||| Prasetiyo

Baca Selanjutnya

Berita lainnya