22.4 C
Indonesia
Kamis, 18 Juli 2024

GAWAI DAN KURMA : SATU KESATUAN YANG TAK TERPISAHKAN

Berita Terbaru

AKTUALONLINE.co.id BANGKA ||| Abad 21 dikenal sebagai abad dengan keterbukaan atau globalisasi. Abad 21 ditandai dengan berbagai macam perubahan fundamental yang sangat berbeda dengan tatanan kehidupan pada abad sebelumnya. Salah satu hal yang menarik pada abad 21 ini adalah bidang pendidikan. Pendidikan pada abad 21 berupaya mengintegrasikan kecakapan pengetahuan, keterampilan, sikap, serta penguasaan terhadap teknologi dengan tujuan agar rakyat Indonesia memiliki kedudukan yang sama dengan bangsa lain dalam dunia global.

Dari segi pendidikan, pada abad 21 menuntut pendidik dan peserta didik memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan dan peluang. Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat menuntut pendidik dan peserta didik harus mampu mengoptimalkan penggunaan gawai di setiap kegiatan belajar mengajar.

Pemanfaatan gawai ditujukan agar kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
Perkembangan teknologi informasi secara global menghadirkan tantangan baru bagi bangsa untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Berkaca saat pandemi berlangsung, kehadiran gawai menjadi kebutuhan primer bagi pendidik dan peserta didik. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan memanfaatkan berbagai fitur yang bisa dengan mudah diakses melalui gawai.

Penggunaan gawai memang tidak akan pernah lepas dari kebermanfaatannya di bidang pendidikan. Mengingat hal itu pun, mengutip pendapat Nadiem bahwa kurikulum di Indonesia harus beradaptasi terhadap situasi yang terjadi saat ini. Transformasi kurikulum protipe yang telah dipakai oleh beberapa sekolah yang ada di Indonesia sebagai kurikulum nasional sudah diuji ke 2.500 sekolah penggerak. Kurikulum merdeka ini diharapkan dapat mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan modern pendidik dan peserta didik.

Kurikulum merdeka dapat dijadikan salah satu opsi yang dalam proses pembelajaran di sekolah. Seperti yang dikatakan Pak Nadiem Makarim yang dikutip dari laman kemendikbud.go.id, “Tolong diingat bahwa kurikulum ini adalah opsi atau pilihan bagi sekolah, sesuai dengan kesiapannya masing-masing. Tidak ada transformasi proses pembelajaran kalau kepala sekolah dan guru-gurunya merasa terpaksa.

Satuan pendidikan dapat memilih untuk mengimplementasikan kurikulum berdasarkan kesiapan masing-masing.” Oleh karenanya, semua kebijakan tergantung dari sekolah masing-masing. Dalam kurikulum merdeka ini, peserta didik dapat memilih sendiri pelajaran yang diminati.

Dalam kurikulum merdeka ini juga terdapat pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Selain itu, dalam kurikulum merdeka ini guru memiliki fleksibilitas untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kemampuan siswa dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Jadi, dalam kurikulum merdeka ini guru mempunyai kebebasan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kondisi dan kemampuan peserta didik.

Dalam implementasi kurikulum merdeka belajar, kita harus menumbuhkan pemikiran dan kesadaran kepada peserta didik untuk memaknai peran gawai sebagai sarana belajar. Jika peserta didik tidak memahami fungsi gawai sebagai sarana dalam proses belajar, maka tujuan pembelajaran atau capaian pembelajaran tidak akan tercapai sebab penggunaan gawai akan disalah gunakan salah satunya akan digunakan untuk bermain game pada saat pembelajaran.

Gawai dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Jika gawai digunakan dengan benar, maka akan banyak sekali manfaat yang dapat peserta didik dapatkan. Namun, akhir-akhir ini penggunaan gawai pada kalangan peserta didik sering disalahgunakan. Alih-alih memanfaatkannya untuk menunjang pelajaran, peserta didik justru menggunakan gawai untuk bermain game bersama teman di kelasnya sehingga penggunaan gawai bagi peserta didik justru menimbulkan masalah baru. Kecanduan dalam bermain game di sekolah dapat mengalihkan dan membuyarkan perhatian peserta didik terhadap pelajaran.

Oleh karena itu, perlu adanya aturan khusus bagi pihak sekolah untuk menyiasati dampak negatif dari gawai agar dampak yang ditimbulkan.tidak mengacaukan sistem pendidikan dan pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah.||| Tim

 

 

Editur : Ah

 

Baca Selanjutnya

Berita lainnya